Tindak Lanjut Kasus Limbah Medis di Bekasi Harus Diperjelas

Tindak Lanjut Kasus Limbah Medis di Bekasi Harus Diperjelas
Limbah medis yang ditemukan di Zona IV TPA Sumurbatu, milik Pemkot Bekasi, merupakan hasil investasi dari KPNas baru-baru ini. (Foto: Suara Pembaruan/Mikael Niman)
Heriyanto / HS Senin, 13 Juli 2020 | 08:37 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Kontroversi limbah medis yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, harus diperjelas. Penegakkan hukum berdasarkan fakta yang ada harus terus dilakukan agar tindakan tersebut tidak terulang lagi.

Demikian disampaikan Sekretaris Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) Jawa Barat Chris Pasaribu di Bogor, Senin (13/7/2020).

Dikatakan, tindakan membuang limbah medis atau sampah mempunyai dampak lingkungan yang cukup besar. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19 ini, semua limbah yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan wabah tersebut harus dikelola secara ketat sesuai aturan yang ada.

“Jangan sampai tindakan membuang limbah medis tidak sesuai aturan itu dibiarkan. Hal itu membahayakan manusia dan lingkungan sekitarnya,” jelas Chris.

Untuk itu, pihaknya sangat mendukung agar langkah hukum harus terus dilakukan kepada pihak-pihak yang diduga membuang limbah tersebut. Hal itu akan memberikan efek jera dan bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya.

Seperti diketahui, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengatakan pelaku dugaan pembuangan limbah medis serta bahan berbahaya dan beracun (B3) ke Zona IV TPA Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, telah teridentifikasi. Hal tersebut baru dari hasil temuan struk pembayaran dan beberapa resep obat yang mengatasnamakan salah satu rumah sakit (RS) swasta di Kota Bekasi.

"Dari hasil verifikasi dan inspeksi ke lokasi, terlihat adanya struk pembayaran dan beberapa kertas bekas resep atas nama RS swasta,” ujar Yayan Yuliana, Selasa (8/7).

Berbeda dengan Dinas LH, Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyimpulkan tumpukan sampah yang diduga sebagai limbah medis dan diduga masuk kategori B3 itu merupakan sampah domestik. Adapun limbah tersebut dibuang dari rumah tangga warga Kota Bekasi. Penjelasan ini berbeda dengan keterangan dari Dinas Lingkungan sebelumnya yang mengatakan sebagai limbah medis.

“Sampah tersebut masuk kategori sampah domestik karena menggunakan kantong plastik hitam atau karung biasa,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati, Kamis (9/7/2020).

Sebelumnya, keberadaan limbah tersebut diakui para pemulung di TPA Sumurbatu dan biasanya dibuang saat tengah malam. Sampah medis tersebut sudah terlihat sejak awal Juni 2020.

“Sejak awal Juni sudah ditemukan masker, bungkus obatan,” ujar Jaenal (40), salah satu pemulung.

Penjelasan tersebut memperkuat penemuan limbah medis di TPA Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, oleh jajaran Koalisi Persampahan Nasional (KPNas).

Berdasarkan investigasi KPNas pada 4 Juli 2020 masih ditemukan pembuangan limbah medis diduga bekas penanganan Covid-19 di Zona IV TPA Sumurbatu.

“Limbah medis itu bekas sortir dan sisa-sisanya dibuang ke Zona IV tersebut. Sebagian limbah medis itu tercampur dengan sampah biasa. Sebagian masih dalam sejumlah bungkus keresek merah,” ujar Ketua KPNas Bagong Suyoto.



Sumber: BeritaSatu.com