Zulkarnaen Djabar Tetap Divonis 15 Tahun Penjara

Zulkarnaen Djabar Tetap Divonis 15 Tahun Penjara
Terdakwa perkara dugaan korupsi pengadaan Alquran dan Laboratorium Komputer di Kementerian Agama (Kemenag) Zulkarnaen Djabar (kiri) didampingi terdakwa Dendy Prasetya (kanan). ( Foto: Antara )
Novy Lumanauw Selasa, 8 Oktober 2013 | 10:06 WIB

Jakarta - Anggota Komisi VIII non aktif, Zulkarnaen Djabar tetap divonis selama 15 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider satu bulan kurungan karena majelis hakim pada Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta dalam putusan bandingnya menyatakan menguatkan putusan pengadilan tingkat pertama.

Tidak hanya vonis terhadap Zulkarnaen yang tetap, hukuman terhadap anaknya, yaitu Dendy Prasetya juga dinyatakan tetap, yaitu divonis dengan pidana penjara selama 8 tahun dan denda Rp 300 juta subsider satu bulan kurungan.

"Berdasarkan putusan No.32/Pid/Tpk/2013/PT.DKI tanggal 19 September 2013 atas nama Zulkarnaen Djabar dan Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra, pada pokoknya menguatkan putusan Pengadilan Tipikor pada tanggal 30 Mei 2013," kata Humas PT DKI, Achmad Sobari melalui pesan singkat, Selasa (8/10).

Selain itu, terhadap keduanya juga tetap dibebankan membayar uang pengganti sebesar masing-masing Rp 5,745 miliar. Dengan ketentuan, jika dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap tidak dibayar maka harta benda disita. Dan jika tidak mencukupi maka diganti dengan pidana kurungan masing-masing selama dua tahun.

Seperti diketahui, majelis hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta, memvonis Zulkarnaen Djabar sebab dinyatakan terbukti menerima komitmen fee sebesar Rp 14,390 miliar dari proyek penggandaan Al Quran tahun 2011, 2012 dan proyek pengadaan laboratorium komputer di Madrasah Tsanawiah (Mts) tahun 2011 di Kementerian Agama (Kemag).

Sedangkan, Dendy Prasetya, dinyatakan terbukti turut menikmati fee sebesar Rp 14,390 miliar.

Dalam pertimbangannya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta mengatakan diperoleh fakta bahwa terdakwa Zulkarnaen selaku anggota dewan dan Dendy Prasetya menerima komitmen fee sebesar total Rp 14,390 miliar melalui rekening PT Perkasa Jaya Abadi Nusantara (PJAN) dari Abdul Kadir Alaydrus. Sebab, mengintervensi pelaksanaan tiga proyek pengadaan, yaitu proyek penggandaan Al Quran tahun 2011, 2012 dan proyek pengadaan laboratorium komputer di Mts tahun 2011.

Proses intervensi dilakukan dengan menghubungi pejabat-pejabat di Kemag. Di antaranya, mantan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Nasarudin Umar, Sesditjen Bimas Islam, Abdul Karim, dan Sesditjen Pendidikan Islam (Pendis) Affandi Mochtar.

Hakim Anggota, Anas Mustakim menerangkan bahwa untuk proyek pengadaan laboratorium komputer tahun 2011 dengan pagu anggaran Rp 31,2 miliar, terdakwa Zulkarnaen dan Dendy, serta saksi Fahd El Fouz menerima fee sebesar Rp 4,7 miliar dari Abdul Kadir Alaydrus. Sebab, memenangkan PT Batu Karya Mas (BKM) yang dipinjam benderanya oleh Maulana sebagai pelaksana proyek.

"Diperoleh fakta bahwa terdakwa satu, dua dan Fahd mendapat komitmen fee sebesar Rp 4,7 miliar dari proyek pengadaan laboratorium komputer tahun 2011 yang ditransfer ke rekening PT PJAN yang dimiliki oleh terdakwa satu, terdakwa dua sebagai direktur dan ibu terdakwa sebagai komisaris," kata Anas.

Sementara itu, untuk proyek penggandaan Al quran tahun 2011 senilai Rp 22 miliar dan tahun 2012 sebesar Rp 50 miliar, Zulkarnaen dan Dendy disebut menerima fee sebesar Rp 9,250 milar dan Rp 400 juta. Fee tersebut kembali diterima melalui transfer ke PT Karya Synergi Abadi Indonesia (KSAI) milik Fahd El Fouz. Tetapi, selanjutnya ditransfer ke rekening PT PJAN oleh Dendy Prasetya.

Fee tersebut diterima karena mengintervensi proses pelaksanaan lelang. Sehingga, memenangkan PT Adhi Aksara Abadi (A3I) untuk penggandaan Al Quran tahun 2011 dan PT Synergi Pustaka Indonesia (SPI) untuk penggandaan Al Quran tahun 2012.

Walaupun, uang tersebut tidak diterima langsung oleh Zulkarnaen melainkan melalui Dendy.

Penerimaan tersebut, lanjut Hakim Anggota Alexander Marwata, terbukti dengan adanya pembicaraan antara terdakwa Zulkarnaen dengan Fahd untuk memastikan fee sudah diterima.

"Pemberian fee untuk terdakwa satu, tidak mau menerima secara langsung tetapi selalu melalui terdakwa dua. Penerimaan fee selalu dicek melalui telepon oleh Fahd. Fahd pernah konfirmasi langsung soal penerimaan fee ke Zulkarnaen dengan mengatakan 'Bang Zul sudah sampai dan Zulkarnaen menganggukan kepala'," ungkap Alexander Marwata.

Sumber: Suara Pembaruan