Kepala BNN: Peredaran Narkoba Semakin Mengerikan

Kepala BNN: Peredaran Narkoba Semakin Mengerikan
Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso menunjukkan barang bukti narkotika jenis sabu jaringan asal Tiongkok bersama dua kurir asal Pontianak di Kantor BNN Cawang, Jakarta Timur, Senin (27/3/2017) siang. ( Foto: SP/Carlos Roy Barus )
Markus Junianto Sihaloho / FMB Selasa, 11 April 2017 | 19:37 WIB

Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggambarkan betapa gawatnya kondisi peredaran narkoba di Indonesia di hadapan para anggota Komisi III DPR.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso (Buwas) menyatakan satu orang bandar narkotika ditembak mati oleh aparatnya dalam sebuah operasi penangkapan di Pontianak, Kalimantan Barat, hari ini.

Kata Buwas, seorang yang ditembak mati itu merupakan bandar besar narkoba di kota itu. Keberadaan mereka diketahui sebagai hasil pengembangan penyelidikan terhadap mafia narkoba jaringan Malaysia.

"Kami kembali melakukan penangkapan hari ini dan terpaksa kami lakukan penembakan satu orang di bandara,” kata Buwas, di Gedung Parlemen, Selasa (11/4).

Buwas menyebutkan, jaringan itu sudah lama dipantau oleh BNN sehingga gerak-gerik kelompok itu sudah diikuti terus.

Pada kesempatan itu, Buwas juga menyebutkan bahwa sebaran peredaran dan jaringan narkotika di Indonesia semakin mengerikan. BNN mendata, daerah yang terindikasi darurat narkotika adalah di wilayah perbatasan di Malaysia khususnya Kalimantan, di Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau.

"Ini kadang melalui kapal perdagangan, kapal nelayan dan speed boat yang berlalu-lalang," kata Buwas.

Sementara kota besar yang terindikasi rawan narkoba adalah Jakarta, Surabaya, dan Medan. Sedang daerah wisata yang terindikasi rawan narkoba adalah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Batam. Menurut Buwas, narkoba biasanya beredar di tempat hiburan malam dan penginapan yang digunakan untuk pesta narkoba.

Jaringan narkotika internasional yang beroperasi di Indonesia adalah dari Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Malaysia, Afrika Barat, Iran, Pakistan, dan Australia. Sedangkan jaringan nasional berasal dari Aceh, Medan, Surabaya, Kalimantan Selatan, Lampung, dan Palembang.

"Untuk yang beroperasi di balik penjara, itu ada jaringan lapas Tangerang, Medan, Jatim, Kalsel, Cipinang, Cirebon dan Lampung," kata Buwas.



Sumber: BeritaSatu.com