FAI Ajak Akademisi Buat Jurnal Penanganan Korupsi

FAI Ajak Akademisi Buat Jurnal Penanganan Korupsi
Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif ( kanan), Mantan Penasihat Abdullah Hehamahua dan Direktur BSI Naba Aji Notoseputro (kiri) memperlihatkan buku 'Jihad Memberantas Korupsi' usai menjadi pembicara Seminar nasional dan workshop Tentang Korupsi di Jakarta, Sabtu (28/10). Seminar dan workshop sekaligus bedah buku karya Abdullah Hehamahua itu menyuguhkan pembahasan tentang pengetahuan bagi generasi muda bahaya korupsi, jenis, dan modus operandi dan dampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara serta cara memberantasnya. ( Foto: Antara / Risky Andrianto )
Euis Rita Hartati / ERH Senin, 30 Oktober 2017 | 08:26 WIB

Jakarta - Forum Akademi Indonesia (FAI) mengajak akademisi Indonesia untuk menulis jurnal internasional bertemakan penanganan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saya mengajak akademisi menulis jurnal internasional dalam pengungkapan kasus korupsi yang dipelopori KPK, sehingga dapat menjadi khasanah di negeri sendiri," kata Ketua Forum Akademisi Indonesia (FAI) Indra Cahya Uno di sela Seminar 'Korupsi’ di AMIK BSI, Jakarta.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Eni Heni H mengatakan, seminar yang rutin dilaksanakan oleh FAI setiap tahun ini merupakan salah satu komitmen FAI dalam memberikan sumbangsih pemikiran dari para akademisi untuk penyelesaian permasalahan yang terjadi masyarakat.

"Di samping itu juga sebagai eksistensi FAI di masyarakat terutama para akademisi dalam penyampaian gagasan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat," ujar Eni.

Seminar yang dipandu oleh Chief Operating Officer PT Samuel Aset Manajemen, Dr Intansyah Ichsan ini dihadiri oleh pembicara-pembicara ahli di bidangnya. Mereka adalah Bambang Widjojanto (mantan pimpinan KPK), Abdullah Hehamahua (mantan penasehat KPK) dan Laode Muhammad Syarif (wakil ketua KPK).

"Diharapkan melalui seminar nasional ini, FAI dapat berperan aktif dalam memberikan gagasan dalam penyelesaian masalah korupsi, yang saat ini semakin banyak kasus pelanggarannya," tutur Eni.