ICW: Tren Korupsi di Indonesia Masih Cukup Tinggi

ICW: Tren Korupsi di Indonesia Masih Cukup Tinggi
Ilustrasi korupsi. ( Foto: ist )
Yeremia Sukoyo / JEM Senin, 17 September 2018 | 15:49 WIB

Jakarta - Kordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan menilai, hingga saat ini jumlah kasus korupsi di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Tren tingginya kasus korupsi tidak hanya terjadi di era pemerintahan saat ini, namun juga terjadi di era pemerintahan sebelumnya.

"Kami, ICW, belum puas dengan kondisi sekarang ini. Ada beberapa indikator, tren pemberantasan korupsi, tren vonis, dan lain-lain. Kalau dilihat trennya, jumlah kasus korupsi tetap tinggi," kata Ade Irawan, dalam diskusi "Menakar Komitmen Anti Korupsi Era Presiden Joko Widodo" dan Peluncuran Buku Opini Staff ICW, di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (17/9).

Menurutnya, upaya pencegahan korupsi di Indonesia sangat membutuhkan keterlibatan masyarakat. Dalam artian, kalau hanya diserahkan kepada aparat penegak hukum, tidak akan pernah selesai.

Kendati demikian, diakui, pola perilaku koruptif di Indonesia saat ini sudah bergeser ketimbang perilaku koruptif di era pemerintahan sebelumnya. Saat ini sudah ada kombinasi antara korupsi politik dan korupsi birokrasi.

"Kalau lihat pola korupsi sekarang, polanya jauh berbeda dari sebelumnya. Ada kombinasi antara korupsi politik dan korupsi birokrasi. Kalau melihat kombinasi itu ada problem di parpol terkait pendanaan parpol," ungkap Ade.

Karena itulah, rekomendasi dari sisi reformasi birokrasi, tidak cukup kalau tidak diikuti dengan reformasi politik. Kedua faktor tersebut harus dituntaskan secara bersama-sama untuk menekan angka kasus korupsi yang terjadi.

ICW sendiri mencatat, selama 2017 ada 576 kasus korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp 6,5 triliun dan kasus suap senilai Rp 211 miliar, serta jumlah tersangka mencapai 1.298 orang.

ICW menyebut, tren korupsi ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Pada 2016 kerugian negara dari 482 kasus korupsi mencapai Rp 1,5 triliun. Angka ini naik menjadi Rp 6,5 triliun pada tahun 2017.

Tidak hanya dalam aspek kerugian negara, dalam aspek tersangka juga mengalami peningkatan signifikan. Tahun 2016, terdapat 1.101 tersangka kasus korupsi dan naik menjadi 1.298 tersangka kasus korupsi pada 2017. 



Sumber: Suara Pembaruan