Mekeng Bantah Terlibat Kasus Korupsi PLTU Riau-1

Mekeng Bantah Terlibat Kasus Korupsi PLTU Riau-1
Petrus Selestinus ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / AO Jumat, 4 Januari 2019 | 22:59 WIB

Jakarta - Ketua Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng melalui kuasa hukumnya, Petrus Selestinus membantah terlibat kasus korupsi PLTU Riau-1. Petrus menilai ada pihak-pihak tertentu yang mencoba menggiring opini seakan-akan Mekeng harus bertanggung jawab hanya karena membantu memperkenalkan Nenie dan Samin Tan kepada Enie Maulani Saragih, anggota DPR yang juga anggota Fraksi Partai Golkar.

"Padahal, di dalam KUHP maupun dalam doktrin ilmu hukum pidana tidak diatur tentang perbuatan mempertemukan seseorang dengan pihak lain sebagai suatu kejahatan atau tindak pidana," ujar Petrus di Jakarta, Jumat (4/1). Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih sebagai terdakwa. Pada persidangan sebelumnya di Pengadilan Tipikor, Jaksa KPK menghadirkan Direktur PT Borneo Lumbung Energi dan Metal, Nenie Afwani.

Di persidangan, Jaksa Penuntut Umum mencecar Nenie soal keterlibatan Mekeng dalam proyek PLTU Riau-1 dengan maksud menguji konsistensi saksi atas keterangannya baik dalam BAP maupun dalam persidangan dan konsistensi itu diperoleh jaksa bahwa Mekeng tidak tahu menahu lagi soal hubungan hukum lebih lanjut antara Eni dan saksi.

Dinamika persidangan Tipikor, kata Petrus, telah menimbulkan tafsir dan kesan seakan-akan Mekeng terlibat dalam kasus ini. Padahal, menurut dia, keterlibatan politisi senior ini sebatas memperkenalkan Nenie dan Samin Tan. "Namun, dalam pemberitaan berkembang seolah-olah Mekeng tersangkut. Kemudian, itu menghiasi sejumlah media massa. Dalam BAP, Mekeng disebut sebagai pihak yang mempertemukan ‎Nenie dan atasannya, Samin Tan, kepada terdakwa Eni Saragih dan sebatas itulah yang terjadi. Itu adalah wajar sebagai pejabat publik memperkenalkan koleganya," kata dia.

Nenie dalam keterangannya tidak mengenal sosok Mekeng. Artinya, dia mengetahui peran Mekeng sebatas mempertemukan Samin Tan dan saksi kepada Eni. Jaksa kembali mempertegas sosok Mekeng yang merupakan anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar. Namun, Nenie berdalih dirinya baru mengetahui bahwa Mekeng merupakan anggota DPR ketika diperiksa sebagai saksi pada saat proses penyidikan di KPK. Jadi, kata Petrus, jelas Mekeng tidak tersangkut dalam peristiwa pidana yang diduga dilakukan oleh Eni dkk.

“Sikap Jaksa KPK sebenarnya hanya ingin menguji konsistensi saksi, apakah Mekeng terlibat dalam kasus korupsi PLTU Riau-1. Namun, saksi ternyata tetap konsisten bahwa Mekeng hanya memperkenalkan aksi dan Samin Tan kepada Eni. Dia bahkan tidak mengenal Mekeng. Dia hanya tahu Mekeng adalah orang yang mempertemukannya dengan terdakwa Eni. Tidak lebih dari itu. Jadi, jelas klien kami tidak terlibat dalam transaksi bisnis yang berujung pada perbuatan korupsi yang melibatkan Erni Saragih sebagai terdakwa,” tutur dia.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) ini menjelaskan posisi kliennya sebatas mempertemukan. “Mempertemukan orang itu hal yang biasa dan manusiawi. Apalagi, di DPR itu terlalu banyak pejabat publik dengan jabatan yang berbeda-beda. Jika ada warga yang meminta bantuan klien kami untuk bertemu dengan koleganya di DPR, sah-sah saja. Apa salahnya?” kata Petrus.

Pengacara senior asal NTT ini lantas meminta masyarakat tidak menggiring opini publik, seolah-olah Mekeng terlibat dalam kasus korupsi PLTU Riau-1. Ia beralasan BAP maupun keterangan saksi, posisi Mekeng tidak terlibat.

Eni Saragih, mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI didakwa menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp 5.600.000.000,- dan SGD 40.000,- dari beberapa direktur dan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas), di antaranya PT Borneo Lumbung Energi dan Metal.



Sumber: BeritaSatu.com