Tersangka Hoax Ijazah Jokowi Tak Mau Keluar Rumah

Tersangka Hoax Ijazah Jokowi Tak Mau Keluar Rumah
Kontrakan tersangka penyebar hoax Umar Kholid Harahap di Kampung Mede, Kelurahan Bekasijaya, Bekasi Timur, tampak tertutup rapat saat didatangi wartawan, 21 Januari 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Mikael Niman )
Mikael Niman / HA Senin, 21 Januari 2019 | 19:03 WIB

Bekasi - Sosok penyebar hoax ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Umar Kholid Harahap (28), tidak dikenal warga di lingkungan kontrakannya. Saat disambangi wartawan di rumah kontrakannya, Senin (21/1), dia tetap menutup pintu rapat-rapat dan tak mau keluar.

Baru tiga bulan Kholid tinggal di Kampung Mede RT 04/RW 02 Kelurahan Bekasijaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, dan diketahui dia belum melapor perihal kepindahannya menjadi warga baru di lingkungan tersebut.

"Tinggal bersama istri dan anaknya yang baru lahir, tidak dikenal warga. Aktivitasnya juga enggak yang tahu," ujar Koordinator Ketentraman dan Ketertiban RT 04, Jayadi, Senin (21/1).

Pengurus RT setempat, kata dia, hanya bertemu sebulan sekali saat menarik uang iuran warga di lingkungan setempat.

"Saya baru tahu kemarin, dia punya usaha‎ pembuat gypsum di wilayah RW 03, beda satu RW dengan rumah kontrakan sekarang ini," tuturnya.

Saat penyidik membekuk Kholid di kontrakannya pada Sabtu (19/1) dini hari lalu, hingga kini tersangka Kholid tidak ditahan, hanya dikenakan wajib lapor.

Pantauan di lokasi, kontrakan tersangka berada di gang sempit RT 04/RW 02 Bekasijaya. Sekelilingnya, memang banyak rumah kontrakan. Rumah tersangka yang bertembok abu-abu serta jendela dan pintu dicat putih ini, tampak tertutup rapat.

Di depan rumah terlihat dua pasang sandal dan jemuran pakaian bayi yang tergantung di internit rumah. Meski diketuk berkali-kali tapi pemilik rumah tidak mau membukakan pintu kepada awak media yang ingin menemuinya.

Baca juga: Tangkap Penyebar Hoax, Polisi Pastikan Ijazah Jokowi Asli

"Ia namanya Umar Kholid Harahap. Waktu itu (penangkapan), polisi juga nanyain, warga di lingkungan RT sini, yang orang Batak ada berapa? Setahu saya cuma ada tiga, di luar Pak Kholid ini karena enggak melapor ke kami," katanya.

Jayadi mengaku sudah curiga ‎saat polisi menanyakan terkait warganya yang berasal dari Sumatera Utara, pada Jumat (18/1) malam. Namun, dia menjelaskan apa yang diketahui sambil memberikan informasi kependudukan yang diminta Kepolisian.

"Enggak langsung diberitahu akan ada penangkapan. Ditangkapnya memang di rumahnya, warga tahu besoknya," imbuhnya.

Tersangka Kholid tinggal di kontrakan milik H Wawan. Sehari-hari, warga sekitar hanya mengetahui aktivitasnya, pergi pagi pulang sore‎. Tersangka Kholid pulang kerja, langsung masuk ke rumah.

"Pulang pergi naik mobil Grand Max, mengendarai sendiri," ucapnya.

Lebih lanjut, kata dia, tersangka Kholid bukan berasal dari Kecamatan Bekasi ‎Timur tapi dari kecamatan lain.

"Berdasarkan Nomor NIK, KTP-nya berasal dari (Kecamatan) Bekasi Barat, kalau Bekasi Timur, punya kode sendiri yang beda‎," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan