Polisi Dalami Dugaan Rekayasa Pailit PT ATS

Polisi Dalami Dugaan Rekayasa Pailit PT ATS
Ilustrasi polisi. ( Foto: Istimewa )
Fana Suparman / WBP Kamis, 7 Februari 2019 | 10:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Aparat kepolisian masih mendalami laporan atas dugaan rekayasa terkait pengajuan surat pailit PT Advan Teknologi Solusi (ATS). Ketiga terlapor kasus dugaan ini, yakni Wirawan, Tanzil, Liana Leo dan Mario Agusta Tanzil merupakan satu keluarga yang menjadi pemegang saham PT Advan sekaligus pemegang saham PT Avidex Central Ent.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Tahan Marpaung mengatakan, surat panggilan terhadap Wirawan sebagai terlapor sudah dilayangkan untuk menjalani pemeriksaan. Namun, Wirawan mangkir dengan alasan sedang marayakan Hari Raya Imlek. "Surat panggilan sudah dikirim, tapi yang bersangkutan (Wirawan) mengirim surat tidak bisa hadir karena masih suasana Imlek," kata Tahan ketika dikonfirmasi wartawan, Rabu (6/2).

Meski demikian, Tahan memastikan pihaknya terus mengusut kasus ini. Dikatakan, saat ini pihaknya masih dalam proses pemeriksaan pihak terlapor dan saksi. "Pasti lanjut, masih dalam tahap pendalaman dan pemeriksaan," tegasnya.

Diketahui, salah seorang pemegang saham PT Advan, Lia melaporkan ke Polres Jakarta Pusat atas dugaan rekayasa terkait surat pengajuan pailit PT ATS. Dalam laporan dengan nomor 1948/K/XI/2018/RESTRO JAKPUS tertanggal 26 November 2018 itu, tiga orang terlapor, yakni Wirawan Tanzil, Mario Agusta Tanzil, dan Liana Leo tanpa sepengetahuan Lia sebagai pelapor yang juga pemegang saham diduga telah mengajukan surat rekayasa pailit PT Advan, dan uang pembayaran dari rekanan senilai kurang lebih Rp 37 miliar diduga beralih ke PT Avidex Central Ent milik terlapor.

Padahal, Wirawan dan istrinya Liana Leo merupakan pemegang saham PT Avidex, sementara Mario yang merupakan anak dari pasangan Wirawan dan Liana Leo menjabat sebagai Businessman Development Manager PT Avidex. Di PT ATS sendiri, Mario menjabat sebagai Direktur Utama dan Liana Leo menjabat sebagai Komisaris PT Advan.



Sumber: Suara Pembaruan