Sofyan Basir Akui Sempat Memarahi Kotjo

Sofyan Basir Akui Sempat Memarahi Kotjo
Dirut PLN Sofyan Basir bersaksi di Pengadilan Tipikor dalam kasus suap PLTU Riau-1. ( Foto: Beritasatu TV )
Fana Suparman / YUD Selasa, 12 Februari 2019 | 16:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama PT PLN Persero, Sofyan Basir mengaku sempat memarahi pemegang saham Blackgold Natural Resoursces Limited, Johannes B Kotjo di hadapan mantan Sekjen Partai Golkar sekaligus mantan Menteri Sosial Idrus Marham dan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar, Eni Maulani Saragih. Hal itu diungkapkan Sofyan saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan perkara dugaan suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa Idrus Marham di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (12/2).

Sofyan menuturkan, peristiwa itu terjadi saat pertemuan dengan Idrus, Eni dan Kotjo di rumahnya pada Juni 2018. Dalam pertemuan itu, Idrus mempersilakan Kotjo untuk lebih dulu berbicara menyampaikan hal yang ingin dibicarakan dengan Sofyan. Namun, di awal pembicaraan, Kotjo langsung berbicara mengenai proyek pembangunan PLTU Riau 2. Menurut Sofyan, Kotjo menyampaikan keinginan untuk dapat kembali menjadi investor pelaksana proyek pada tahun 2019.

"Saya bilang, Pak Kotjo, tolong jangan diskusi, mimpi saja jangan, selesaikan saja dulu Riau-I. Saya minta fokus dulu," ungkap Sofyan.

Sofyan mengaku tak dapat menahan emosi lantaran proyek PLTU Riau-1 yang rencananya digarap oleh Kotjo dan investor dari Tiongkok, China Huadian Engineering Company (CHEC) belum juga mencapai kesepakatan dan berjalan secara alot. Bahkan, Sofyan juga mengancam akan mencari investor lain, apabila Kotjo dan rekanannya tidak sepakat dengan penawaran yang sudah ditetapkan PLN.

"Mohon maaf, saat itu saya agak emosi. Saya bilang, mimpi saja jangan. Suasana saat itu langsung tidak enak," katanya.

Dituturkan Sofyan, saat itu, Idrus segera memotong percakapan dan meminta agar Eni dan Kotjo keluar dari ruang pertemuan. Idrus mengatakan, dia memiliki hal lain yang perlu dibicarakan dengan Sofyan.

"Kira-kira setelah 10 menit (Kotjo dan Eni) keluar, saya bilang (ke Idrus), mereka kan tamu saya. Tapi, dia bilang enggak usah, tetap di luar," tuturnya.

Setelah itu, Sofyan mengaku membicarakan hal lain dengan Idrus Marham. Salah satunya terkait pembicaraan permintaan corporate social responsibility (CSR) dari PLN.

Sofyan mengaku menerima kehadiran Eni dan Kotjo di rumahnya lantaran Eni dinilai sebagai anggota Dewan yang kerap berpihak pada PLN. Menurut Sofyan, Eni selalu menanggapi positif terkait kebijakan dan usulan yang dikeluarkan PT PLN. Misalnya, terkait batubara dan tarif energi baru terbarukan.

"Beliau sebagai Wakil Ketua Komisi VII yang di mana saat kami rapat dengar pendapat (RDP), dia selalu berpihak pada PLN," katanya.
Meski demikian, Sofyan memastikan tidak ada permintaan PLN dalam kontrak kerja sama yang dikurangi lantaran adanya pertemuan di rumahnya. Sofyan mengklaim pertemuan di rumahnya itu terjadi hanya karena menghormati Eni sebagai anggota DPR yang menjadi mitra kerja PLN.

"Inilah mengapa kami sangat menghargai kawan-kawan di sana (DPR), termasuk Bu Eni. Karena hubungan sosial dan mitra kerja, ya kami temui," kata Sofyan.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Idrus Marham bersama-sama Eni Maulani Saragih menerima suap sebesar Rp 2,25 miliar dari Johannes Kotjo. Suap tersebut diberikan agar Idrus dan Eni membantu Kotjo mendapat proyek Independent Power Producer (IPP) Mulut Tambang PLTU Riau 1. Proyek senilai US$ 900 juta itu rencananya digarap PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company yang dibawa Kotjo.



CLOSE