Siber Polri Selamatkan Pelajar yang Akan "Bunuh Diri"

Siber Polri Selamatkan Pelajar yang Akan
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Farouk Arnaz / WBP Kamis, 21 Februari 2019 | 12:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Seorang pelajar SMK di Jakarta berinisial AAP (17) sempat membuat penyidik Direktorat Siber Bareskrim Polri kalang kabut dan pontang panting.

Ceritanya penyidik di Jakarta mendapat informasi dari atase Polri di Kedubes RI Washington DC, Amerika Serikat (AS) bahwa ada pelajar hendak bunuh diri. Adapun Atase Polri mendapat informasi dari Call Center Suicide Prevention Lifeline di AS. AAP sengaja menelepon layanan tersebut—yang berfungsi mencegah seseorang melakukan bunuh diri. “Pada layanan itu, AAP menyampaikan bahwa dia akan mengakhiri hidupnya dengan cara memotong urat nadi sebelum berulang tahun yang ke-17 pada 20 Februari 2019,” kata Direktur Siber Barekrim Brigjen Albertus Rachmad Wibowo pada Beritasatu.com, Kamis (21/2/2019).

Merespons hal itu, call center mencoba menghubungi AAP untuk memastikan keselamatannya. Call center juga menyarankan agar AAP berkonsultasi ke psikolog dan gurunya. Selain itu, call center meminta alamat AAP dan lalu memberitahu informasi ini ke atase Polri di Washington dan meneruskannya ke penyidik di Jakarta.

Kasubdit 3 Dit Siber Bareskrim Polri Kombes Kurniadi yang menerima informasi ini langsung memerintahkan anggotanya untuk menyelamatkan anak tersebut. “AAP diketahui seorang pelajar SMK kelas 2 jurusan Informasi Teknologi (IT) di Jakarta Timur. Ternyata dia dalam kondisi baik-baik saja, tidak dalam keadaan depresi,” lanjut Rachmad.

Selidik punya selidik, AAP ternyata menelepon dengan maksud melaksanakan tugas sekolahnya yang berjudul "Pengaruh Kesehatan Mental dan Perilaku Terhadap Remaja.” AAP ingin mengetahui seberapa cepat aparat menindaklanjuti laporannya sekaligus menguji kemampuan bahasa Inggrisnya. Dia juga terinspirasi serial TV berjudul 13 Reasons Why yang bercerita tentang call center. “Siber Polri bersama Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Timur datang hanya dua jam
setelah mendapat info itu. Kami segera menangani anak tersebut, untuk memastikan bahwa si anak baik-baik saja,” imbuh Rachmad.

Menurut Rachmad tak ada unsur pidana dalam kasus ini. Polisi juga tidak merasa direpotkan karena kerja ini adalah soal kemanusian.

Menurut Rachmad kejadian serupa pernah ditangani Dit Siber Bareskrim pada tahun 2015. Saat itu ada seorang pelajar wanita di Jawa Timur yang depresi menghubungi call center pelayanan anak di London. Para penyidik di London meyakini bahwa anak ini dalam keadaan depresi. Bila tidak segera ditolong, si anak bisa mengakhiri hidupnya.

Dit Siber Polri lalu menghubungi Kapolrestabes Surabaya yang saat itu dijabat oleh Kombes Yan Fitri untuk segera menemukan anak tersebut. Ternyata betul, anak itu dalam keadaan depresi karena selalu mendapat ranking 1 di sekolahnya. Dia khawatir kehilangan kasih sayang orang tuanya dan kehilangan teman-temannya bila rankingnya turun. Polri dan orangtua si anak pun lalu memberikan penanganan yang baik.



Sumber: BeritaSatu.com