Terinspirasi Serial Televisi, Pemuda Ini Cobai Dit Siber Polri

Terinspirasi Serial Televisi, Pemuda Ini Cobai Dit Siber Polri
Ilustrasi bunuh diri minum racun. ( Foto: Beritasatu.com )
Farouk Arnaz / AMA Kamis, 21 Februari 2019 | 12:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Seorang pelajar SMK di Jakarta berinisial AAP, yang masih berusia 17 tahun, berhasil diselamatkan dari upaya bunuh diri oleh Siber Polri. Hanya saja, pemuda tersebut ternyata tidak benar-benar mau bunuh diri. Ia hanya mengerjakan tugas sekolah dan "beraksi" karena terinspirasi serial televisi "13 Reasons Why".

Hal itu diceritakan Dir Siber Barekrim Brigjen Albertus Rachmad Wibowo pada Beritasatu.com Kamis (21/2/2019).

Ceritanya, penyidik di Jakarta mendapat informasi dari atase Polri di Kedubes RI Washington DC, Amerika Serikat (AS) bahwa AAP hendak bunuh diri. Atase Polri mendapat informasi itu dari Call Center Suicide Prevention Lifeline di AS. AAP sengaja menelepon layanan tersebut, yang berfungsi mencegah seseorang melakukan bunuh diri.

“Pada layanan itu AAP menyampaikan bahwa dirinya akan mengakhiri hidupnya dengan cara memotong urat nadinya sebelum dirinya berulang tahun yang ke-17 pada tanggal 20 Februari 2019,” kata Brigjen Albertus Rachmad Wibowo.

Karena terkait ancaman dan keselamatan nyawa seseorang, maka Call Center tersebut terus mencoba menghubungi AAP untuk memastikan keselamatannya. Call Center tersebut sekaligus menyarankan AAP untuk konsultasi ke psikolog dan gurunya. Call Center juga meminta alamat AAP, lalu memberitahu informasi itu ke atase Polri di Washington yang kemudian meneruskan ke penyidik di Jakarta.

Kasubdit 3 Dit Siber Bareskrim Kombes Kurniadi Polri yang menerima informasi ini langsung memerintahkan anggotanya untuk menyelamatkan anak tersebut. “Dia diketahui sebagai seorang pelajar SMK kelas 2 jurusan IT di Jakarta Timur. Ternyata dia dalam kondisi baik-baik saja, tidak dalam keadaan depresi,” lanjut Rachmad.

Selidik punya selidik, AAP ternyata menelepon dengan maksud melaksanakan tugas sekolahnya yang berjudul "Pengaruh Kesehatan Mental Dan Perilaku Terhadap Remaja.”

AAP ingin mengetahui seberapa cepat aparat menindaklanjuti laporannya serta untuk menguji kemampuan bahasa Inggrisnya. Dia juga terinspirasi melakukan hal ini karena menonton serial TV yang berjudul “13 Reasons Why” yang bercerita tentang call center yang melayani keluh kesah masyarakat.

“Siber Polri bersama Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Timur datang hanya dua jam
setelah kami mendapat info itu. Kami segera menangani anak tersebut, untuk memastikan bahwa si anak baik-baik saja,” imbuhnya.

Menurut Rachmad Wibowo, tak ada unsur pidana dalam kasus ini. Polisi juga tidak merasa direpotkan karena kerja ini adalah soal kemanusian. Kejadian serupa pernah ditangani Dit Siber Bareskrim pada tahun 2015. Saat itu ada seorang pelajar wanita di Jawa Timur yang depresi menghubungi call center pelayanan anak di London.

Para penyidik di London meyakini bahwa anak ini dalam keadaan depresi dan bila tidak segera ditolong kemungkinan si anak akan mengakhiri hidupnya. Dit Siber Polri lalu menghubungi Kapolrestabes Surabaya yang saat itu dijabat oleh Kombes Yan Fitri untuk segera menemukan anak tersebut yang ternyata betul dalam keadaan depresi karena si anak selalu mendapat peringkat satu di sekolahnya.

Dia khawatir kehilangan kasih sayang orang tuanya dan kehilangan teman-temannya bila peringkatnya turun.
Polri dan orang tua si anak pun lalu memberikan penanganan yang baik kepadanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com