Idrus Tuding Eni Saragih Berkonspirasi dengan Airlangga Saat Golkar Bergejolak

Idrus Tuding Eni Saragih Berkonspirasi dengan Airlangga Saat Golkar Bergejolak
Terdakwa kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 Idrus Marham mengikuti sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 15 Januari 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Fana Suparman / JAS Selasa, 12 Maret 2019 | 17:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham menuding mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar Eni Maulani Saragih telah berkonspirasi dengan Airlangga Hartarto saat Golkar sedang bergejolak.

Idrus menyebut Eni dan Airlangga berkonspirasi agar Golkar menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk mengganti Setya Novanto yang saat itu dijerat KPK atas kasus korupsi e-KTP. Padahal, Novanto, kata Idrus masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Hal ini dikatakan Idrus saat diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang perkara dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (12/3).

‎"Pada saat Golkar bergejolak, Eni sudah melakukan konspirasi. Eni sudah bergabung dengan Airlangga Hartarto untuk menggelar Munaslub. SN pernah memarahi Eni," kata Idrus.

Idrus menuturkan, Novanto sempat ditetapkan tersangka oleh KPK terkait kasus korupsi e-KTP. Namun, status tersangka Setnov gugur setelah memenangkan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada November 2017, KPK kembali menetapkan Novanto sebagai tersangka.

Setelah sempat terjadi drama panjang, termasuk drama kecelakaan, Novanto pun ditahan KPK. Kasus hukum yang dihadapi Novanto ini membuat internal Golkar bergejolak.

"Pada saat itu SN (Setya Novanto) ditahan dan ada kecelakaan. Gejolak di Partai Golkar semakin besar, itulah alasan SN tidak menyelesailan masa jabatannya (sebagai Ketum Golkar)," terangnya.

Setelah Novanto ditahan KPK, Rapat Pleno Partai Golkar memutuskan untuk menjadikan Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Partai Golkar pada 21 November 2017. Jabatan tersebut diemban Idrus hingga digelar Munaslub Partai Golkar yang menghasilkan keputusan mengukuhkan Airlangga sebagai Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Novanto.

"Dan saya sudah tidak Plt lagi," kata Idrus.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Idrus Marham bersama-sama Eni Maulani Saragih menerima suap dari Johannes Kotjo sebesar Rp 2,25 miliar. Suap tersebut diberikan agar Idrus dan Eni membantu Kotjo mendapat proyek Independent Power Producer (IPP) Mulut Tambang PLTU Riau 1. Proyek senilai US$ 900 juta itu rencananya digarap PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company yang dibawa Kotjo. 



Sumber: Suara Pembaruan