Ini Percakapan Idrus Perintahkan Eni Minta Uang ke Kotjo

Ini Percakapan Idrus Perintahkan Eni Minta Uang ke Kotjo
Terdakwa kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 Idrus Marham (kanan) menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (12/3/2019). Sidang mantan Menteri Sosial tersebut beragendakan pemeriksaan terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK. ( Foto: ANTARA FOTO / Reno Esnir )
Fana Suparman / JAS Selasa, 12 Maret 2019 | 20:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Sekjen Partai Golkar dan mantan Menteri Sosial, Idrus Marham menjalani sidang pemeriksaan terdakwa perkara dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Dalam persidangan ini, Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman sadapan ‎percakapan antara Idrus Marham dengan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar dan Bendahara Munaslub Partai Golkar, Eni Maulani Saragih.

Dalam rekaman tersebut terungkap Idrus memerintahkan Eni untuk meminta uang kepada pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo untuk kepentingan Munaslub Partai Golkar. Berikut transkrip rekaman pembicaraan antaran Idrus dan Eni yang diperdengarkan di persidangan.

Idrus : Bilangin anu itu, si Kotjo tuh.
Eni : Oke, yaudah.
Idrus : Supaya siap siapkan dana itu nanti Dek tuh.
Eni : Oke, oke Bang, oke.
Idrus : He eh, karena kita butuh. Tadi saya dengan Nurdin ya, itu longgar itu dua ratus.
Eni : iya, iya.
Idrus : Sudah, sudah aklamasi Dek.
Eni : Iya, iya.
Idrus : Kalau Novanto kan kemarin lima ratusan lebih.
Eni : Oh. Janganlah itu Bang.
Idrus : Ah jangan.
Eni : Cuma dua tahun, cuma dua tahun.
Idrus: Dua ratus aja Dek. Iya, enggak usah.
Eni : Dua tahun tapi setahun balik modal Bang.
Idrus : Aduh sialan. (suara tidak jelas) (tertawa).
Eni : (tertawa) Lah iyalah tuh saya Bang, kalau semua pintu, pintu kuning itu ada di saya Bang (suara tidak jelas) ah itu mah kecil bang.
Idrus: Yah.

Usai rekaman diperdengarkan, Idrus mengakui adanya percakapan dengan Eni mengenai permintaan uang tersebut. Namun, Idrus mengklaim sedang berkelakar.

"Ini saya lakukan dengan kelakar, dengan candaan," katanya.

Idrus menuturkan, sebelumnya Eni bersikeras mendorongnya untuk menjadi Plt Ketua Umum Golkar setelah Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua Umum ditahan KPK karena kasus korupsi e-KTP. Namun, Idrus menolak permintaan Eni lantaran merasa tidak etis bicara jabatan saat Setnov baru ditahan.

"Pernah Eni menelepon tetapi mendesak saya untuk jadi ketum karena berpandangan 'Bang Idrus berpengalaman dan menyelesaikan konflik Golkar', saya tidak mau karena kalau jadi ketum saya tidak ingin tersandera siapapun tapi Eni bersikeras saya kalau ada (orang) yang mau membantu saya dan tidak akan tersandera siapapun," kata Idrus.

Eni, kata Idrus, berjanji akan membantu berapa pun dana yang dibutuhkannya untuk menjadi Ketua Umum. Untuk itu, Idrus mengklaim, sambil berkelakar meminta Eni menyiapkan dana tersebut.

"Makanya pada 25 September 2017 itu saya tagih dengan berkelakar ke Eni, 'En kan loe katanya ada uang tanpa syarat mana itu?' Jangan Rp 200 miliar, 1 (juta dolar AS) jangan, tapi 2 atau 3 (juta dolar AS) lah. Ini saya lakukan dengan kelakar sekaligus mau kasih pelajaran ke Eni karena mau menggampangkan sesuatu, sebagai bukti di akhir percakapan saya katakan 'En loe aja deh yang jadi ketua umum'," tambah Idrus.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Idrus Marham bersama-sama Eni Maulani Saragih menerima suap dari Johannes Kotjo sebesar Rp 2,25 miliar. Suap tersebut diberikan agar Idrus dan Eni membantu Kotjo mendapat proyek Independent Power Producer (IPP) Mulut Tambang PLTU Riau 1.

Proyek senilai US$ 900 juta itu rencananya digarap PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company yang dibawa Kotjo.



Sumber: Suara Pembaruan