Saksi Sebut Irwandi Minta Eks Kombatan GAM Setop Minta Bantuan ke Pengusaha

Saksi Sebut Irwandi Minta Eks Kombatan GAM Setop Minta Bantuan ke Pengusaha
Gubernur Aceh Nonaktif Irwandi Yusuf tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Jumat (26/10/2018). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / JAS Jumat, 15 Maret 2019 | 08:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah 4 Aceh Timur, Angga mengungkapkan setelah perjanjian perdamaian dengan pemerintah Indonesia pada 2005, kondisi Kombatan GAM masih mengkhawatirkan. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, tak jarang para mantan Kombatan GAM meminta bantuan kepada pihak-pihak yang mampu, seperti pengusaha, kontraktor, atau polisi.

Hal ini diungkapkan Angga saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan suap dan gratifikasi dengan terdakwa Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf di Pengadilan Tipikor Jakarta Kamis (14/3/2019).

Angga menuturkan, dalam kunjungannya ke daerah-daerah, Irwandi kerap meminta kombatan GAM untuk menghentikan meminta-minta bantuan. Irwandi mengingatkan tindakan-tindakan tersebut dapat mengganggu perdamaian di Aceh yang telah berupaya diperjuangkan.

"Beliau ini (Irwandi) selalu mengarahkan kami, jangan (meminta). Hentikan apapun bentuk yang mengganggu perdamaian. Mari kita bangun Aceh itu dengan baik, apapun kekurangan tetap sabar," kata Angga dalam kesaksiannya di persidangan.

Selain itu, Angga menyebut Irwandi Yusuf banyak membantu anak yatim dan kaum dhuafa selama menjabat. Hal itulah yang dirasa mengurangi beban para mantan kombatan GAM.

"Ribuan anak yatim dapat haknya, kami senang. Kaum duafa juga dapat walaupun kami belum dapat, tetapi (pemenuhan) hak anak yatim itu sudah mengurangi beban kami," katanya.

Angga mengakui masih ada eks kombatan, termasuk dirinya yang meminta kepada pengusaha atau kontraktor tanpa sepengetahuan Irwandi maupun petinggi GAM lainnya. Menurutnya, hal ini terpaksa dilakukan lantaran belum seluruh poin dalam MoU Helsinki yang dipenuhi pemerintah.

Sementara Angga mengaku memiliki kewajiban moral terhadap para kombatan GAM yang menjadi anak buahnya. Namun, Angga menegaskan, saat ini, dalam meminta bantuan menggunakan cara persuasif tanpa kekerasan.

"Saya datangi dengan cara baik. Pertama meminta pekerjaan, misalnya meminta (pekerjaan) subkontraktor, tapi kadang nggak dikasih, hanya dikasih uangnya. Kita ambil, kita kumpulkan untuk kebutuhan kita semua. Tidak ada secara kekerasan, tidak ada kita bilang fee-fee," ungkapnya.

Angga mengaku pernah menyampaikan kondisi eks Kombatan GAM ini kepada Irwandi. Kepada Angga dan eks kombatan GAM lainnya, Irwandi meminta untuk bersabar. Irwandi mengaku sedang berupaya memenuhi keinginan eks kombatan tersebut.

Ditegaskan, pihaknya menghormati dan mendukung pemerintah Indonesia. Untuk itu, Angga menegaskan, eks kombantan GAM berupaya menjaga situasi kondusif di Aceh.

"Setelah damai, harapan kami sama-sama menjaga, jangan sampai menjadi konflik baru. Kami mendukung pemerintah sekarang. Yang kami jaga kepentingan nasional," katanya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Irwandi telah menerima suap dari Bupati Bener Meriah Ahmadi sebesar Rp 1,05 miliar terkait Dana Otonomi Khusus Aceh. Selain itu, jaksa juga mendakwa Irwandi telah menerima gratifikasi selama menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2017-2022 sebesar Rp 8,71 miliar.

Jaksa juga mendakwa Irwandi dan Izil Azhar telah menerima gratifikasi sebesar Rp 32,45 miliar dari Board of Management PT Nindya Sejati sebesar Rp 32,45 miliar terkait pembangunan Dermaga Bongkar ‎pada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Sabang Aceh yang dibiayai APBN.



Sumber: BeritaSatu.com