Golkar Jaga Elektabilitas Pascakasus Suap Bowo Sidik

Golkar Jaga Elektabilitas Pascakasus Suap Bowo Sidik
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Robertus Wardi / YS Senin, 1 April 2019 | 16:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Partai Golkar (PG) terus menjaga tren kenaikan elektabilitas di tengah adanya kasus suap yang melibatkan politisi PG Bowo Sidik Pangarso. PG yakin kasus tersebut tidak membuat elektabilitas partai berlambang pohon beringin tersebut melorot.

“Kasus Pak Bowo itu urusan pribadi. Bowo bagian kecil dari tujuh orang yang ada di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah (Jateng) I,” kata Sekjen PG Lodewijk F Paulus seusai membuka seminar bertema “Pemilu Damai, Berintegritas dan Menyejahterakaan” di Ruang GBHN, Gedung Nusantara V, Kompleks MPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Ia meyakini, kasus Bowo tidak berpengaruh banyak pada PG. Elektabilitas PG akan terus naik dan pada hari pencoblosan 17 April mendatang, Golkar akan meraih kemenangan.

“Kami terus jaga elektabilitas yang trennya naik. Apa yang dilakukan Bowo adalah urusan pribadi. Kami bekerja terus, tidak terpengaruh dengan kasus itu,” tutur mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopasus itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso, dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung, sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo Sidik Pangarso dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti sebagai tersangka.

Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif seusai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019) dini hari.

Kasus ini bermula saat PT HTK berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pilog untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT HTK. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso.

Pada 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dan PT HTK. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT HTK yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo Sidik Pangarso meminta komitmen fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Untuk merealisasikan komitmen fee itu, Asty memberikan uang sebesar Rp 89,4 juta kepada Bowo Sidik Pangarso melalui Indung di kantor PT HTK di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3/2019).Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.



Sumber: Suara Pembaruan