Eks Bendahara Kempora Sebut Imam Nahrawi Kemungkinan Kecipratan Fee dari KONI

Eks Bendahara Kempora Sebut Imam Nahrawi Kemungkinan Kecipratan Fee dari KONI
Menpora Imam Nahrawi menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan suap dana hibah KONI dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 29 April 2019.. ( Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / WM Senin, 13 Mei 2019 | 20:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kementerian Pemuda dan Olahraga, Supriyono mengungkapkan, sejumlah pejabat di Kempora mendapat jatah atau fee dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) terkait dana hibah. Tak terkecuali Menpora Imam Nahrawi yang juga Pengguna Anggaran Kempora.

Hal itu dikatakan Supriyono saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora dengan terdakwa Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kempora Mulyana, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/5/2019).

"Kalau PA (Pengguna Anggaran) kemungkinan dapat. Tetapi yang lebih jelas Pak Sekjen KONI yang tahu," kata Supriyono dalam kesaksiannya di persidangan.

Supriyono membeberkan, sejak awal sudah ada kesepakatan fee antara pejabat KONI dan pejabat Kempora atas setiap pencairan dana hibah yang diterima KONI dari Kempora. Fee dari KONI itu diterima semua pejabat Kempora yang bersentuhan langsung dengan proposal permintaan dana hibah KONI, seperti pejabat pembuat komitmen (PPK), kuasa pengguna anggaran (KPA), tim verifikasi dan bendahara.

Dalam persidangan ini, Supriyono mengaku pernah menyerahkan uang sebesar Rp 400 juta kepada Miftahul Ulum, asisten pribadi Imam Nahrawi. Uang yang berasal dari pejabat KONI itu diberikan Supriyono kepada Miftahul Ulum atas perintah Mulyana dan Chandra Bakti selaku PPK Kempora.

"Pak Mulyana bilang Rp 400 atau Rp 500 juta. Setelah ada uangnya, saya sampaikan ke Pak Ulum, saya kasih uangnya," kata Supriyono.

Supriyono menuturkan, diperintahkan Mulyana dan Chandra Bakti untuk mencarikan uang Rp 400 juta. Kemudian, Supriyono menghubungi pejabat KONI untuk mendapatkan uang Rp 400 juta yang diakuinya sebagai uang pinjaman. Setelah uang tersebut didapatkan, Supriyono menghubungi Ulum dan bertemu di depan masjid di Kantor Kempora.

"Saya lapor ke Pak Mulyana setelah uang saya serahkan," kata Supriyono.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Mulyana menerima suap Rp 400 juta, 1 unit Toyota Fortuner dan satu ponsel Samsung Galaxy Note 9 dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy. Suap berupa uang dan barang itu diterima Mulyana bersama-sama pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kempora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanto.

Suap itu diduga diberikan agar Mulyana dan dua anak buahnya mempercepat persetujuan dan pencairan dana hibah Kempora yang akan diberikan kepada KONI Tahun Anggaran 2018



Sumber: Suara Pembaruan