Kasus Bowo Sidik, KPK Bakal Periksa Nusron Wahid

Kasus Bowo Sidik, KPK Bakal Periksa Nusron Wahid
Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid ( Foto: BNP2TKI )
Fana Suparman / YUD Kamis, 16 Mei 2019 | 09:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bakal mendalami dugaan keterlibatan Ketua BNP2TKI, Nusron Wahid terkait kasus dugaan suap pengangkutan pupuk yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidiq Pangarso. Sebelumnya, Bowo mengaku diperintahkan Nusron yang merupakan koleganya di Partai Golkar menyiapkan 400 ribu amplop untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019. Ratusan ribu amplop yang berisi uang sekitar Rp 8 miliar tersebut telah disita KPK saat menangkap Bowo Sidik beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif menyatakan pihaknya akan memanggil dan memeriksa pihak-pihak yang disebut terlibat dalam suatu perkara. Termasuk Nusron mengenai uang dalam 400 ribu amplop yang diduga salah satunya berasal dari suap yang diterima Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia terkait kerja sama pengangkutan pupuk.

"Ya semua yang terlibat dan disebut, biasanya kan kami mintai klarifikasi," kata Syarif di Gedung ACLC KPK, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Hal senada dikatakan Jubir KPK, Febri Diansyah. Dikatakan, KPK bakal terus mendalami dan mengembangkan kasus suap yang menjerat Bowo Sidik. Salah satunya dengan memeriksa Nusron yang telah disebut Bowo dalam proses penyidikan. Namun, Febri mengaku belum mengetahui waktu yang pasti pemeriksaan terhadap Nusron akan dilakukan tim penyidik.

"Kebutuhan-kebutuhan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang informasinya muncul di tahap penyidikan baik dari tersangka ataupun dari saksi terbuka kemungkinan dilakukan (pemanggilan), tapi apakah akan dilakukan dalam waktu dekat atau apakah akan dilakukan pemanggilan untuk nama-nama tertentu itu nanti penyidik yang tahu," kata Febri.

Febri memastikan penyidikan kasus yang menjerat Bowo terus berjalan. Namun mengenai status hukum Nusron setelah itu, Febri enggan berspekulasi.

"Jadi kalau sudah ada informasinya kami sampaikan yang pasti penyidikannya masih terus berjalan untuk dua kasus, pertama kasus dugaan suap, kedua dugaan penerimaan gratifikasi," kata Febri.

Sebelumnya, Bowo menyeret nama Nusron Wahid terkait 400.000 ribu amplop serangan fajar yang telah disita tim penyidik KPK. Bowo mengklaim diperintahkan Nusron untuk menyiapkan ratusan ribu amplop yang diduga berisi uang dengan total sekitar Rp 8 miliar tersebut.

Bowo melalui kuasa hukum saat itu bahkan menyebut jika Nusron lebih banyak menyiapkan amunisi untuk ‘serangan fajar’, yakni 600.000 amplop.

Bowo menyebut perintah menyiapkan 400.000 amplop itu disampaikan Nusron secara bertemu dengannya di gedung Parlemen.
Sebaliknya, Nusron membantah seluruh pernyataan Bowo. Nusron menegaskan pernyataan Bowo tersebut tidak benar. Diketahui, Nusron dan Bowo merupakan caleg petahana Partai Golkar yang maju dari Dapil Jateng II dalam Pemilu 2019.



Sumber: Suara Pembaruan