Baru Selesai Dihitung, Uang Dalam Amplop Bowo Sidik Rp 8,45 Miliar

Baru Selesai Dihitung, Uang Dalam Amplop Bowo Sidik Rp 8,45 Miliar
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / MPA Kamis, 23 Mei 2019 | 20:41 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru selesai menghitung uang dalam ratusan ribu amplop milik Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Uang di amplop yang disimpan dalam 85 kardus dan dua kotak kontainer tersebut berjumlah Rp 8,45 Miliar.

"Dari total 85 kardus dan 2 kontainer plastik tersebut kami amankan uang total Rp 8,45 miliar," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Diketahui, ratusan ribu amplop dalam sekitar 85 kardus dan kotak kontainer itu disita tim penyidik saat menangkap Bowo pada akhir Maret lalu. Febri menjelaskan, uang miliaran rupiah itu terdiri dari pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000. Namun didinominasi uang dalam pecahan Rp 20.000. "Perhitungan ini dilakukan mulai dari tanggal 29 Maret sampai dengan kemarin 10 Mei 2019," kata Febri.

Febri mengakui, pihaknya membutuhkan waktu untuk menghitung seluruh uang yang disimpan dalam ratusan ribu amplop tersebut. Hal ini lantaran terkait alat bukti perkara. "Karena kami harus secara hati-hati tentu saja dan memastikan semua uang dalam satu persatu amplop tersebut dihitung," kata Febri.

Namun Febri tak menjelaskan secara rinci sumber uang Rp8,45 miliar yang diterima Bowo. Begitu juga dengan cap jempol yang ada pada amplop-amplop tersebut. "Uang itu saat ini disita KPK sebagai bagian dari berkas perkara," kata Febri.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019) dinihari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia.

Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Untuk merealisasikan komitmen fee ini, Asty memberikan uang sebesar Rp 89,4 juta kepada Bowo melalui Indung di kantor PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3/2019). Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.

Suap ini bukan yang pertama diterima Bowo dari pihak PT Humpuss Transportasi Kimia. Sebelumnya, Bowo sudah menerima sekitar Rp 221 juta dan US$ 85.130 dalam enam kali pemberian di berbagai tempat, seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT Humpuss Transportasi Kimia.

Selain dari Humpuss, KPK menduga Bowo juga menerima suap atau gratifikasi dari sejumlah perusahaan lain. Saat OTT kemarin, tim Satgas KPK menyita uang sekitar Rp 8 miliar. Uang dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Ratusan ribu amplop tersebut diduga disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada hari pencoblosan Pemilu 2019



Sumber: Suara Pembaruan