Massa GNKR Lempari Polisi di DPRD Sumut

Massa GNKR Lempari Polisi di DPRD Sumut
Ilustrasi pengamanan. ( Foto: Antara )
Arnold H Sianturi / FMB Sabtu, 25 Mei 2019 | 09:53 WIB

Medan, Beritasatu.com - Saat melakukan pengamanan di Gedung DPRD Sumut Jl Imam Bonjol Medan, Jumat (24/5/2019) malam, aparat kepolisian dilempari botol mineral dan batu oleh massa Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR).

Kericuhan ini dilakukan massa setelah melakukan salat berjamaah, pada pukul 21.15 WIB. Meski dilempari, aparat kepolisian tetap tenang dan tidak membalas aksi sekelompok dari ribuan massa yang menginginkan terjadinya kerusuhan tersebut.

Bahkan, aparat kepolisian dipimpin Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dadang Hartanto dibantu Komandan Kodim 02/01 BS Kolonel Yuda Rismansyah, turun menetralisir keadaan. Padahal, pendemo melakukan buka puasa bersama dengan para anggota TNI-Polri di sejumlah titik tak jauh dari lokasi aksi.

Setelah itu, massa GNKR melakukan salat magrib, salat isya dilanjut salat tarawih berjamaah di sepanjang Jalan Imam Bonjol, tepatnya depan Gedung DPRD Sumut. Sebagian kelompok mulai tersulut emosi ketika rekannya menganjurkan kembali ke rumah masing - masing.

Massa semakin tersulut ketika di antara orator yang menganjurkan pulang menyatakan tidak akan bertanggung jawab bila kejadian tidak diinginkan terjadi. Orator mengkhawatirkan adanya penyusup. Kericuhan semakin memanas ketika massa yang berada di barisan depan merusak kawat berduri.

Mereka mengumandangkan revolusi dalam kericuhan itu. Pasukan anti-huru hara langsung bersiap menghalau massa. Terlihat personel TNI berdiri paling depan di depan kawat berduri untuk menenangkan massa.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dadang Hartanto ikut menenangkan massa dari atas mobil komando. Sedangkan penanggung jawab aksi, Rabu Alam meminta massa untuk berhenti hingga mengeluarkan bacaan Alquran sepanjang aksi. Dadang pun langsung menemui massa didampingi Komandan Kodim 02/01 BS Kolonel Yuda Rismansyah.

Sebelumnya, Kolonel Yuda sudah meminta massa bubar. Namun permintaan itu ditolak. "Sudah terlalu banyak penyusup. Lebih baik kita umat Muslim bubar," kata Yuda. Dadang dan Yuda menemui mahasiswa untuk menjawab tuntutan mahasiswa.

"Kami dari keamanan penuh keringat supaya tidak ada korban. Karena saya cinta kepada adik-adik semua," ujarnya. "Mati syahid sama-sama pilihan kita. Kita tidak ingin beradu di sini. Kalian lempar tadi kita diam. Kami membawa tameng untuk melindungi diri," tukasnya.

Sementara itu, dari pihak massa menuntut polisi untuk menentukan sikap polisi untuk mendiskualifikasi Joko Widodo dari pencapresan dan presiden. "Yang kita minta polisi menyatakan sikap. Karena kita ingin Jokowi didiskualifikasi," ujar orator dari kalangan mahasiswa.

Pertanyaan itu langsung dijawab Dadang. Kata dia itu bukan wewenangnya. "Polisi adalah alat negara, tidak punya kewenanggan untuk itu," sebutnya. Tidak lama kemudian, ribuan massa itu akhirnya membubarkan diri.



Sumber: Suara Pembaruan