Saksi Sebut Jokdri Perintah Amankan Barang Bukti

Saksi Sebut Jokdri Perintah Amankan Barang Bukti
Mantan pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Joko Driyono, bersiap mengikuti sidang perdana kasus dugaan penghilangan barang bukti pengaturan skor di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin, 6 Mei 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Bayu Marhaenjati / HA Rabu, 29 Mei 2019 | 01:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggelar sidang perusakan barang bukti dengan terdakwa mantan Plt ketua umum PSSI Joko Driyono, Selasa 28/5/2019). Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Muhammad Mardani Morgot alias Dani selaku sopir terdakwa dalam persidangan. Dani mengatakan, mendapatkan perintah langsung dari majikannya untuk mengamankan dokumen dan rekaman CCTV, setelah Satgas Antimafia Bola menyegel kantor PT Liga Indonesia, di Rasuna Office Park, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dani mengungkapkan, Jokdri -panggilan akrab Joko Driyono- meneleponnya dan bertanya apakah bisa masuk ke dalam kantor lewat pintu belakang, tanggal 31 Januari 2019 malam.

"Dia telepon bilang, 'kamu masih bisa nggak masuk lewat pintu belakang?' Saya bilang bisa. 'Ya sudah kamu ke kantor sekarang kalau sudah sampai telepon saya lagi' kata pak Joko," ujar Dani.

Dikatakan Dani, setelah berada di kantor dirinya kembali menghubungi Jokdri. Selanjutnya, Jokdri diduga memberikan perintah lanjutan agar Dani mengamankan semua dokumen.

"Saya bilang, 'pak saya sudah masuk ke kantor.' Kemudian dia bilang, 'oke amankan semua yang berbentuk dokumen kecuali buku dan majalah.' Dia bilang lewat telepon," ungkap Dani.

Sejurus kemudian, Dani bersama rekannya Mulyadi -- salah satu anak buah Jokdri -- masuk ke dalam kantor yang sudah disegel polisi, sekitar pukul 01.00 WIB, tanggal 1 Februari 2019.

Dani dan Mulyadi mengamankan dokumen serta laptop milik Jokdri, dan menukar DVR kamera pengawas atau CCTV. Tujuannya, diduga agar polisi tak mengetahui kalau mereka telah masuk ke dalam.

JPU turut menghadirkan saksi dari penyidik Satgas Antimafia Bola Ipda Gusti Ngurah Krisna, dalam persidangan. Gusti menuturkan, berdasarkan keterangan saksi Dani dan Mulyadi, keduanya diperintah Jokdri untuk mengamankan barang bukti setelah polisi menyegel kantornya.

"Perintahnya itu kalau nggak salah, amankan semua barang-barang dalam laci berupa buku kertas. Kamu masukkan semua dalam koper dalam tas untuk dibawa," jelasnya.

Sementara itu, Jokdri membantah telah memerintahkan anak buahnya untuk merusak atau menghancurkan barang bukti.

"Pertama beberapa fakta yang disampaikan kami mengerti, tapi kami tidak menyetujui asumsi. Termasuk fakta tentang perintah saya untuk menghancurkan barang bukti. Termasuk penggantian CCTV," kata Jokdri di akhir persidangan.

Diketahui sebelumnya, JPU mendakwa Joko Driyono, diduga melanggar Pasal 363, Pasal 235 dan Pasal 221 KUHP, terkait kasus menerobos garis polisi, mengambil barang bukti serta perusakan barang bukti, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (6/5/2019) kemarin. Jokdri terancam hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Jokdri dan penasihat hukumnya tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan JPU itu, sehingga sidang langsung masuk dalam agenda pemeriksaan pokok perkara dengan meminta keterangan saksi-saksi.



Sumber: BeritaSatu.com