Polri Ungkap Kivlan Zen Dalang Rencana Pembunuhan

Polri Ungkap Kivlan Zen Dalang Rencana Pembunuhan
Mayor Jenderal TNI Purn Kivlan Zen (tengah) menjawab pertanyaan wartawan saat meninggalkan Bareskrim Polri usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Senin 13 Mei 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Robertus Wardi / YUD Selasa, 11 Juni 2019 | 18:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - ‎Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkap mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebagai aktor utama atau dalang dalam rencana pembunuhan empat tokoh nasional. Hal itu berupa Kivlan memberikan perintah dan dana kepada pelaku lapangan untuk membunuh.

"Kami penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya menyampaikan perkembangan kasus membawa menyimpan, menguasai dan menyembunyikan senjata api ilegal tanpa hak, tanpa izin dengan motif melakukan permufakatan jahat yang dilakukan dua orang atau lebih sebagaimana Pasal 88 KUHP untuk melakukan perencanaan pembunuhan kepada lima orang," kata Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Sam Indradi dalam konferensi pers di Kementerian Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Ia menjelaskan ‎pengungkapan Kivlan sebagai dalang berawal dari penangkapan 6 tersangka, di mana masing-masing perannya sebagai leader, pencari eksekutor, eksekutor, orang yang mencari senjata api dan terakhir menjual senjata api ilegal. Para tersangka tersebut adalah HK alias Iwan, IR, TJ, AZ, AD, ‎dan seorang wanita berinisial AF alias Fifi.

Seluruhnya ditangkap ditangkap di wilayah Bogor, Jakarta, dan Bandara Soekarno-Hatta pada 21 dan 24 Mei ‎ 2019.

Menurutnya, para tersangka yang dipimpin Kivlan diduga melakukan pemurfakatan jahat untuk melakukan pembunuhan berencana terhadap empat tokoh nasional dan satu direksi Charta Politika, Yunanto Wijaya. Empat tokoh nasional tersebut adalah Menko Polhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Staf Sus Presiden bidang intelijen dan keamanan Gories Mere dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

Dia menuturkan ‎Kivlan memesan senjata api, memberikan target pembunuhan sekaligus memberikan duit operasional. Kivlan berperan memberikan perintah kepada tersangka HK alias I dan tersangka AZ untuk mencari eksekutor pembunuhan.

"KZ memberikan uang sebesar Rp 150 juta ke HK alias I untuk membeli beberapa pucuk senjata api. Setelah mendapat empat senjata api pun, berdasarkan fakta yang kami dapatkan, tersangka KZ masih menyuruh tersangka HK mencari satu lagi senpi panjang lainnya karena senpi yang didapatkan dianggap belum memenuhi standar yang diberikan," ujar Ade.

Kivlan juga disebut memberikan uang Rp 5 juta kepada tersangka IR untuk melakukan pengintaian kepada target target khususnya target pimpinan lembaga survei. Dari tangan Kivlan, polisi telah menyita sebuah handphone yang dipakai berkomunikasi antara tersangka KZ dan dengan tersangka lainnya.

Ade menambahkan Kivlan mendapat pasokan dana dari tersangka Habil Marati‎ yang juga politikus PPP. Habil ditangkap di kediamannya di Pondok Pinang, kata dia, berperan memberikan uang kepada KZ.

"Uang yang diterima KZ berasal dari HM. Tujuan untuk pembelian senjata api, juga memberikan uang 60 juta rupiah langsung kepada HK untuk biaya operasional dan juga pembelian senjata api," tutup Ade. 



Sumber: Suara Pembaruan