Kapolri: Polri Tidak Pernah Katakan Kivlan Zen Dalang Kerusuhan

Kapolri: Polri Tidak Pernah Katakan Kivlan Zen Dalang Kerusuhan
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (kanan) bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (tengah), Menteri Perhuungan Budi Karya Sumadi (dua kiri), dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (dua kanan) meninjau pemeriksaan pasukan dalam apel gelar pasukan Operasi Ketupat 2019 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Selasa 28 Mei 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Bayu Marhaenjati / AMA Kamis, 13 Juni 2019 | 12:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan, Polri tidak pernah mengatakan bahwa tersangka Kivlan Zen sebagai dalang kerusuhan massa, di Jakarta, 21-22 Mei 2019 lalu.

"Tolong dikoreksi bahwa dari Polri tidak pernah mengatakan dalang kerusuhan itu adalah Pak Kivlan Zen. Nggak pernah. Yang disampaikan oleh Kadiv Humas pada saat press release di Polhukam adalah kronologi peristiwa di 21-22 Mei, di mana ada dua segmen yakni, aksi damai dan aksi yang sengaja untuk melakukan kerusuhan," ujar Tito Karnavian, di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019).

Tito Karnavian menegaskan, peristiwa kerusuhan massa itu memang diduga kuat sudah direncanakan atau di-setting, karena pelaku sudah menyiapkan barang-barang atau alat yang digunakan untuk melawan aparat.

"Kalau nggak sengaja, kok nggak ada penyampaian pendapat langsung menyerang yang jam setengah 11 malam (22.30 WIB), kok ada bom molotov. Bom molotov itu kan pasti disiapkan, bukan peristiwa spontan pakai batu seadanya. Ini ada bom molotov, panah, parang, ada roket mercon, itu pasti dibeli sebelumnya. Kemudian ada mobil ambulans yang isinya bukan peralatan medis, tapi peralatan kekerasan. Itu berarti memang kalau saya berpendapat peristiwa jam setengah 11 malam dan selanjutnya sudah ada yang menyetting," ungkap Tito Karnavian.

"Tapi tidak menyampaikan itu Pak Kivlan Zen (dalang), hanya disampaikan dalam peristiwa itu ada korban sembilan orang meninggal dunia di samping luka-luka baik dari kelompok perusuh maupun dari petugas. Petugas itu 237 yang terluka, sembilan dirawat satu rahang pecah. Banyak, tapi tidak di-cover," tambahnya.

Tito Karnavan melanjutkan, ada korban luka tembak dalam kerusuhan itu. Pertama, ada peluru masuk dan keluar atau tembus, dan ada luka tembak masuk.

"Kalau luka tembak masuk, keluar, tidak ada proyektil pembuktian lebih sulit. Kecuali ada video, foto dan lain-lain yang menunjukkan tembakan berasal dari mana. Itu pun mungkin tidak bisa dilihat, dibedakan antara apakah itu peluru karet atau peluru tajam. Yang ditemukan proyektil 5,56 milimeter dengan uliran 4 ke kanan dan 9 milimeter. Inilah yang bisa kita telusuri kira-kira pelaku penembakannya siapa," katanya.

Menurut Tito, tim penyidik belum bisa menyimpulkan dari mana asal tembakan karena masih dalam penelitian, uji balistik sejumlah senjata yang ada di TKP.

"Kalau ternyata itu keluar dari salah satu senjata aparat, maka kita akan investigasi apakah sesuai SOP atau pembelaan diri. Pembelaan diri diatur dalam Pasal 49 (KUHP). Kemungkinan korban ini kan ada berasal di Petamburan di mana ada asrama yang kemudian diserang, dibakar. Asrama juga kan ada keluarga di situ, mungkin pembelaan diri atau ada pihak ketiga pihak lain yang melakukan itu," jelasnya.

Tito menambahkan, kemungkinan ada pihak ketiga sangat terbuka, karena Polri sebelum tanggal 21 Mei, sudah mengungkap tiga kelompok yang memiliki senjata ilegal diduga berkaitan dengan peristiwa kerusuhan.

"Pertama empat senjata api di Jawa Barat. Kedua adalah bapak S (Sunarko) yang kirimkan senjata dari Aceh untuk tanggal 22, senjata sudah disita. Ketiga bapak Kivlan Zen, dengan kelompoknya yang memiliki senjata api. Kita tidak tuduh (Kivlan Zen) sebagai dalang, tidak. Tapi dikatakan bahwa ada pihak lain di luar petugas yang juga terindikasi akan gunakan senjata api, dan mungkin ada pihak lain yang kita tidak deteksi menggunakan senjata api," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com