Penyidik Bakal Konfrontasi Kivlan Zen dengan Habil dan Iwan

Penyidik Bakal Konfrontasi Kivlan Zen dengan Habil dan Iwan
Mayor Jenderal TNI Purn Kivlan Zen (tengah) meninggalkan Bareskrim Polri usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Senin 13 Mei 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Bayu Marhaenjati / FER Senin, 17 Juni 2019 | 23:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Polda Metro Jaya, berencana melakukan pemeriksaan konfrontasi antara-tersangka Kivlan Zen dengan tersangka Habil Marati dan tersangka Helmi Kurniawan alias Iwan, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (18/6/2019) besok. Konfrontasi dilakukan untuk memastikan apakah aliran dana dari tersangka Habil digunakan untuk membeli senjata api atau tidak.

"Besok kemungkinan akan diadakan gelar perkara atau konfrontasi antara semua saksi-saksi yang terlibat saat itu. Kalau ini terbukti bahwa tidak ada kaitan dengan pak Kivlan, maka kita minta ini di-close," ujar kuasa hukum Kivlan, Muhammad Yuntri, di Polda Metro Jaya, Senin (17/6/2019).

Dikatakan Yuntri, pemeriksaan konfrontasi kemungkinan akan dilaksanakan besok pagi atau siang.

"Dikonfrontasi antara para saksi-saksi tentang kesaksian mereka dengan keterlibatan pak Kivlan, tentang aliran dana khususnya tentang Habil Marati. Kalau itu tidak terbukti pak Kivlan support aliran dana untuk tujuan yang dituduhkan baik pembunuhan dan pengadaan, kita minta pak Kivlan di-SP3 (surat perintah penghentian penyidikan)," ungkap Yuntri.

Sebelumnya, Kivlan membantah kalau aliran dana dari Habil digunakan untuk membeli senjata api. Kivlan tidak menampik adanya aliran dana sebesar 4.000 Dollar Singapura dan Rp 50 juta, namun uang itu dipakai buat mengumpulkan massa aksi terkait momentum Supersemar 11 Maret, bukan untuk rencana pembunuhan dan pembelian senjata.

Di sisi lain, tersangka Kurniawan alias Iwan melalui rekaman video membeberkan dirinya ditangkap polisi tanggal 21 Mei, terkait ujaran kebencian dan kepemilikan senjata api yang menurutnya ada kaitannya dengan Mayjen (Pur) Kivlan Zen. Rekaman video pengakuan Iwan sempat ditayangkan dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Selasa (11/6/2019) lalu.

Dalam video itu, Iwan juga mengaku mendapat bayaran Rp 150 juta buat membeli senjata sekaligus mendapatkan perintah dari Kivlan Zen melakukan eksekusi untuk membunuh Menko Polhukam Wiranto dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

Sementara itu, Habil Marati disebut sebagai donatur para eksekutor yang berencana membunuh empat pejabat yakni, Menko Polhukam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Staf Sus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, ditambah satu direksi Charta Politika, Yunanto Wijaya.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary, mengatakan, Kivlan diduga mendapat pasokan dana sebesar 15.000 Dollar Singapura atau setara Rp 150 juta dari tersangka Habil Marati‎ yang juga politikus PPP. Habil kemudian, ditangkap di kediamannya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

"Uang yang diterima KZ berasal dari HM. Tujuan untuk pembelian senjata api, juga memberikan uang Rp 60 juta langsung kepada HK (tersangka Helmi Kurniawan alias Iwan selaku eksekutor) untuk biaya operasional dan juga pembelian senjata api," kata Ade.



Sumber: BeritaSatu.com