Pastikan Proyektil, Polisi Dalami Senjata yang Tewaskan Korban Diduga Perusuh

Pastikan Proyektil, Polisi Dalami Senjata yang Tewaskan Korban Diduga Perusuh
Brigjen Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / CAH Rabu, 19 Juni 2019 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim investigasi internal Polri mulai mendapatkan titik terang terkait jenis proyektil yang menewaskan dua dari sembilan korban tewas dalam rentetan rusuh 21-22 Mei lalu.

“Hasil uji labfor menyebutkan dari tiga proyektil yang didapat dari tubuh korban,yang diduga pelaku perusuh, adalah kaliber 5,56 mm dan kaliber 9 mm. Untuk kaliber 9 mm itu tingkat kerusakan proyektil cukup parah, pecah. Sehingga uji alur senjata itu sulit ditemukan,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Rabu (19/6/2019).

Untuk diketahui proyektil yang ditembakan akan mempunyai alur atau gurat tertentu yang spesifik. Alur atau gurat ini akan sesuai dengan laras darimana proyektil itu ditembakkan. Makanya alur atau gurat itu akan dicocokan dengan laras senjata yang dicurigai digunakan untuk menembak.

“Senjatanya masih didalami karena senjata ini agak sulit. Juga siapa yang menggunakan senjata ini yang menggunakan kaliber 5,56 mm dan 9 mm. Selain itu penyidik juga melakukan analisa secara komprehensif di mana para korban yang diduga sebagai perusuh ditemukan. Penyidik Polda Metro Jaya mencari CCTV di beberapa TKP itu,” sambungnya.

Dedi mengakui kaliber itu bisa digunakan senjata standar Polri atau TNI namun juga bisa digunakan senjata rakitan. Contohnya senjata dari konflik yang ada di Papua, di Maluku, dan termasuk tersangka terorisme jaringan MIT.

“Mereka itu mendapat peluru organik. Cuma senjata yang digunakan sebagian besar rakitan. Senjata rakitan itu terakhir diungkap milik Pak KZ (Kivlan Zein) dan senjata rakitan lain yang dimiliki oleh terorisme bisa didapat dari penyelundupan senjata dari Amerika Selatan,” tambahnya.

Namun jika proyektil itu berasal dari senjata rakitan akan lebih sulit diusut alur atau gurat senjatanya. Sebab senjata rakitan itu ada yang memiliki alur ada yang tidak memiliki alur tapi kalau senjata standar jelas alurnya ke kanan atau ke kiri.

“Kita harus ada pembanding senjatanya. Kalau ketemu pembandingnya tetapi (harus mencari tahu juga) senjata yang digunakan itu senjata siapa? Itu perlu pembuktian dan analisa yang cukup dalam. Yang jelas pasukan pengamanan secara langsung pada tanggal 21 dan 22 Mei, baik Polri maupun TNI, tidak dibekali senjata api dan peluru tajam,” tegasnya.

Peluru tajam itu diantataranya diketemukan di jasad kaki dua korban bernama Abdul Azis dan Harun Al Rasyd. Satu korban
bernama Zulkifli juga tertembak peluru tajam di pahanya. Dia bisa diselamatkan dan saat ini sedang dirawat.



Sumber: BeritaSatu.com