Serikat Pekerja Pertamina Sebut Karen Agustiawan Korban Kriminalisasi

Serikat Pekerja Pertamina Sebut Karen Agustiawan Korban Kriminalisasi
Terdakwa kasus dugaan korupsi investasi perusahaan di blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009, Karen Agustiawan mengangkat tangannya usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan (vonis) oleh Majelis Hakim di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (10/6/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 19 Juni 2019 | 15:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Serikat Pekerja PT Pertamina (Persero), Arie Gumilar, menilai, mantan Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, merupakan korban kriminalisasi. Padahal, saat Karen menjabat banyak prestasi yang ditorehkan untuk Pertamina.

Arie mengungkapkan, saat Karen menjabat Pertamina masuk ke dalam daftar Fortune 500. Hanya perusahaan terbaik yang masuk ke dalam Fortune 500.

"Dia juga sebagai insipiring woman. Jadi ini ironi ternyata orang yang berjasa tapi di kriminalisasi. Kami melihatnya begitu," kata Arie di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Menurut Arie, apa yang dilakukan Karen dalam berinvestasi sudah sesuai dengan kaidah bisnis yang ada. Apalagi, investasi tersebut sudah masuk dalam Rancangan Kerja dan Anggaran Pertamina.

"Investasi BMG juga sudah masuk kr dalam RKAP-nya salah satunya akuisisi blok diluar, prosedur sudah dipenuhi. Adanya kerugian bisnis itu hal yang wajar, apalagi ini bisnisnya hulu migas yang padat teknologi, padat modal, risikonya tinggi. Siapapun ahli geologi di dunia ini tak bisa memastikan apa yang ada di dalam tanah, semua berdasarkan keilmuan," tutur Arie.

Arie pun merasa khawatir, jika petinggi BUMN gampang dikriminalisasi maka, para BUMN akan merasa takut berinvetasi. Sehingga,hal itu menjadi celah bagi swasta asing masuk ke Indonesia. "Kalau kayak gini iklim investasi BUMN makin turun dan bisa jadi peluang swasta asing untuk mengelola aset negara," imbuh Arie.

Untuk diketahui, Karen Agustiawan yang divonis 8 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, pada Senin (10/6/2019) lalu. Dalam putusan majelis hakim, Karen juga dihukum membayar denda Rp 1 miliar subsider empat bulan kurungan.

Tak tinggal diam mendengar putusan majelis hakim, Karen beranggapan bahwa dalam kasus korupsi investasi Blok Manta Gummy (BMG) yang menyeretnya menjadi terdakwa ini terdapat kejanggalan.

"Saya berpikir dan bertanya-tanya, siapa sebetulnya sponsor utama kasus BMG ini? Dan apa motifnya? Politik atau uang atau kedua-duanya? Atau hanya dendam pribadi karena urusan saudara yang tidak dipenuhi permintaannya?” kata Karen saat membacakan pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (29/5/2019) lalu.

Menurut Karen, apa yang dilakukannya murni untuk ekspansi bisnis Pertamina dan bukan untuk memperkaya diri. Menurutnya, ekspansi dalam dunia bisnis hulu migas adalah hal yang biasa.

"Tidak masuk akal jika saya sengaja melanggar ketentuan untuk menguntungkan pihak/korporasi lain, dan merugikan perusahaan yang selama ini saya telah bekerja keras," ucap Karen.



Sumber: BeritaSatu.com