Saksi Sebut Situng KPU Tampilkan Data Salah

Saksi Sebut Situng KPU Tampilkan Data Salah
Saksi ahli 02 Hermansyah ( Foto: Beritasatu TV )
Aichi Halik / AHL Rabu, 19 Juni 2019 | 18:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim hukum paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menghadirkan saksi, Hermansyah, seorang ahli IT lulusan ITB.

Hermansyah berbicara soal kejanggalan Sistem Informasi Penghitungan Suara (situng) KPU, terutama terkait kesalahan input data perolehan suara sehingga menampilkan data keliru.

"Saya mendatangi KPU Pusat 3 Mei dan KPUD Bogor 4 Mei bersama Fadli Zon. Di sisi KPU pusat, banyak sekali kelemahan dari sisi pelaporan, kalau kita lihat, saya sendiri membaca mendapatkan informasi sekitar 73 ribu kesalahan di sisi input dilaporkan ke Bawaslu dan sebagainya, itu yang saya baca," ujar Hermansyah dalam sidang lanjutan sengketa hasil pilpres, di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019).

"Jadi dari sisi saya menyimpulkan ada satu kelemahan yang paling mendasar adalah bagaimana melakukan input di situng," papar Hermansyah.

Saksi paslon 02 ini juga mempersoalkan kinerja penginput data dan verifikator. Dia menyebut KPU menetapkan jumlah petugas terkait situng sebanyak 25 orang.

"Tapi saat saya kunjungi di Bogor sekitar 4 orang dan seorang verifikator itu seorang pegawai negeri dan dia punya admin pegawai negeri itu saya peroleh dari meninjau KPUD Bogor," kata Hermansyah.

Hermansyah juga melihat bahwa hasil scan C1 dan teks berisi informasi di dalam C1 tidak masuk dalam waktu yang sama.

"Kita lihat ada ribuan file tanpa teks. Delay antara pengiriman teks bisa 5-10 menit setelah itu baru file ditampilkan," ujar Hermansyah.

Menurut Hermansyah, seharusnya foto atau hasil scan dokumen C1 bisa masuk ke dalam sistem bersamaan dengan versi teksnya sehingga data yang muncul ke publik tidak salah.

Hermansyah mengatakan, pada era teknologi saat ini seharusnya tidak sulit untuk melakukan hal itu.

"Dengan adanya teknologi yang kita miliki sekarang seharusnya kelambatan dan kesalahan itu tidak terjadi lagi," ujar Hermansyah.



Sumber: BeritaSatu TV