3 Calon Sekjen KPK Hadapi Seleksi Tahap Akhir

3 Calon Sekjen KPK Hadapi Seleksi Tahap Akhir
Febri Diansyah. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / CAH Rabu, 19 Juni 2019 | 20:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tiga calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) menghadapi seleksi tahap akhir atau wawancara dengan tim Panitia Seleksi (Pansel). Mereka telah lolos dengan serangkaian tes mulai dari tahapan seleksi administrasi, kesehatan dan assessment kompetensi.

"Tiga orang ini disaring dari 200 orang pendaftar di Seleksi Gelombang III ini," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Tiga calon Sekjen tersebut yakni, Direktur Pengaduan Masyarakat KPK, Cahya Hardianto Harefa; Inspektur LIPI, Hiskia; dan Direktur Litbang KPK, Wawan Wardiana.

Berikutnya, kata Febri, tiga calon tersebut akan menjalani tahap wawancara dengan Panitia Seleksi Sekjen KPK. Dari tahap wawancara ini akan ditentukan calon yang akan dikirimkan namanya ke Presiden. Berikutnya Presiden RI yang akan memilih dan mengangkat Sekjen KPK dari calon yang disampaikan oleh Pansel tersebut.

Dalam berbagai tahapan, Pansel telah memperhatikan pemenuhan persyaratan para calon dan juga rekam jejak mereka di bidang masing-masing. KPK juga memberikan ruang bagi masyarakat jika ada Informasi tambahan terkait rekam jejak para calon ini.

"Hal tersebut perlu dilakukan untuk memastikan pejabat yang akan menjalankan tugas sebagai Sekjen KPK dapat bekerja secara maksimal dalam memberikan dukungan utama terhadap kerja pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK," kata Febri.

Diketahui, KPK untuk ketiga kalinya membuka proses seleksi untuk mengisi posisi Sekjen. Dalam dua kali seleksi sebelumnya, KPK gagal mendapatkan seorang Sekjen definitif.

Dalam seleksi kali ini, KPK mencari tiga orang kandidat yang nantinya diusulkan kepada Presiden untuk dipilih dan dilantik sebagai Sekjen. Dalam proses seleksi kali ini KPK membuka kesempatan pada WNI yang berstatus sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN) ataupun bukan ASN.

Terpenting, calon Sekjen KPK memiliki kepakaran, integritas dan komitmen tinggi dalam mendukung pemberantasan korupsi. Syarat tersebut dinilai penting lantaran posisi Sekjen membutuhkan calon yang benar-benar kompeten untuk melakukan pembinaan atas manajemen perencanaan, pengelolaan keuangan, organisasi dan tata laksana, manajemen strategis dan manajemen kinerja, manajemen sumber daya manusia hingga bantuan hukum dan hubungan masyarakat.

KPK telah dua kali menggelar seleksi untuk posisi Sekjen. Dalam seleksi terakhir, terdapat enam kandidat yang mengikuti tahap wawancara dengan pimpinan KPK pada 7 Januari 2019. Keenam kandidat tersebut terdiri dari Sekda Pemprov Kalbar, Muhammad Zeet Hamdy Assovie; advokat, dosen dan mantan Direktur Utama Perum Peruri, Prasetyo; mantan Plt Asisten Kepala UKP3R, Roby Arya Brata; mantan Kepala Bappeda DKI Jakarta, Tuty Kusumawaty; mantan Direktur Keuangan PT Pelindo III dan mantan Komisaris Utama PT Portek Indonesia, U. Saefuddin Noer; serta Guru Besar Universitas Hasanuddin dan Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Kementerian LH dan Kehutanan, Winarni Dien Monoarfa. Namun, Panitia Seleksi memutuskan keenam kandidat tersebut dinyatakan gagal.

Dengan demikian, KPK belum memiliki Sekjen definitif sejak ditinggalkan Bimo Gunung Abdul Kadir pada 10 Maret 2018. KPK memberhentikan dengan hormat Bimo dari posisi itu dengan alasan kinerja. Saat ini, Deputi Pencegahan Pahala Nainggolan ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal KPK.

Sekjen KPK bertugas menyiapkan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan administrasi, sumber daya, pelayanan umum, keamanan dan kenyamanan, hubungan masyarakat, dan pembelaan hukum kepada segenap unit organisasi KPK.



Sumber: Suara Pembaruan