Kasus Bowo Sidik, Adik Nazaruddin Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Kasus Bowo Sidik, Adik Nazaruddin Mangkir dari Pemeriksaan KPK
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / YUD Senin, 24 Juni 2019 | 19:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Demokrat, Muhammad Nasir mangkir dari pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (24/6/2019). Adik mantan Bendum Partai Demokrat, M Nazaruddin itu sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Nasir akan dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan anak buah Bowo Sidik, Indung.

"Saksi Muhammad Nasir tidak hadir," kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi, Senin (24/6/2019).

Atas ketidakhadiran ini, tim penyidik menjadwalkan ulang pemeriksaan Nasir pada Senin (1/7) mendatang. Politikus Demokrat itu diminta kooperatif dan memenuhi panggilan penyidik.

Belum diketahui secara pasti kaitan Nasir dengan kasus suap dan gratifikasi yang menjerat Bowo dan Indung. Namun, ruang kerja Nasir yang merupakan Wakil Ketua Komisi VII DPR pernah digeledah tim penyidik KPK pada 4 Mei lalu. Penggeledahan ini dilakukan lantaran KPK menduga Bowo menerima gratifikasi terkait pengurus Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun, tak ada barang bukti yang disita tim penyidik saat menggeledah ruang kerja Nasir.

Sejak pekan lalu, tim penyidik terlihat gencar memanggil dan memeriksa anggota dewan untuk diperiksa dalam kasus suap dan gratifikasi yang diterima Bowo selaku Anggota DPR.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari.

Bowo melalui Indung diduga menerima suap dari Asty dan petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia lainnya terkait kerja sama pengangkutan menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Tak hanya suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima gratifikasi dari pihak lain. Secara total, suap dan gratifikasi yang diterima Bowo mencapai sekitar Rp 8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.



Sumber: Suara Pembaruan