Amir JI Terindikasi Terafiliasi dengan Al-Qaeda

Amir JI Terindikasi Terafiliasi dengan Al-Qaeda
Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo merilis penangkapan legenda Jamaah Islamiah Para Wijayanto yang diyakini merupakan amir atau pimpinan sel teror Jamaah Islamiah (JI) sejak 2007 di Mabes Polri pada hari ini, Senin (1/7/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Farouk Arnaz )
Farouk Arnaz / FMB Senin, 1 Juli 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Mabes Polri akhirnya merilis penangkapan legenda Jamaah Islamiah Para Wijayanto yang diyakini merupakan amir atau pimpinan sel teror Jamaah Islamiah (JI) sejak 2007 pada hari ini, Senin (1/7/2019). Para disebut memiliki kompetensi untuk merakit bom, paramiliter, dan intelijen.

Para ditangkap bersama dengan empat orang lainnya. Meski masih belum menunjukan aktivitas persiapan teror namun polisi tidak ingin kecolongan kelompok yang dimasa lalu diwarnai aksi dua bomber yakni Noordin M.Top dan Dr Azhari itu.

“Bisa dibayangkan kalau organisasi ini tumbuh besar dan memiliki kekuatan massa dan ekonomi. Maka tinggal menunggu waktu saja dan tidak menutup kemungkinan cita-cita mereka menjadikan Indonesia Khilafah (terwujud). Makanya Densus 88 melakukan preventif strike,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, hari ini.

Para yang mempunyai nama alias Abang alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arif alias Ahmad Fauzi Utomo ini memimpin JI sejak 2007 sampai dengan sekarang atau pasca-tertangkapnya amir lama bernama Zarkasih alias Mbah.

“Dulu sayap militernya dipercayakan ke Abu Dujana. (Para) yang ditangkap kemarin ini memang dulunya, pada tahun 2000-an, di JI, dia yang dikasih kepercayaan dalam struktur organisasi JI di bidang intelijen,” sambungnya.

Namun setelah JI dinyatakan bubar, dia malah dibaiat sebagai amir yang ada di Indonesia. JI ini berbeda dengan JAD dan JAT. JI ini jauh lebih tua dan berafiliasi ke Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden sedangkan JAD berafiliasi ke ISIS yang pimpinannya Abu Bakar Al Baghdadi.

Pada tahun 2000, Para merupakan alumni dari pelatihan militer di Moro angkatan ketiga. Akademi ini milik JI di mana dari situlah yang bersangkutan aktif di dalam struktur organisasi JI. Para adalah lulusan S1 Teknik Sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah yang artinya punya intelektual dari kompetensi.

“Dia juga aktif di dalam berbagai macam kejadian terorisme yang ada di Indonesia. Mulai dari kasus Bom Bali 2002 dan tahun sebelumnya di 2000 itu ada Bom Natal kemudian ada bom yang ada di duta besar Australia. Dia juga aktif ketika terjadi kerusuhan di Poso mulai dari 2005 sampai 2007,” tambahnya.

Sepanjang 2013 hingga 2018 dia sudah mengirim orang-orang yang berhasil direkrut untuk mengikuti program latihan dan praktik di Suriah. Sudah ada enam gelombang yang diberangkatkan dan sebagian besar sudah kembali ke Indonesia pada bulan Mei kemarin dan juga sudah berhasil ditangkap.

Baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Di bidang paramiliter, selain pembuatan bom, Para juga mampu mengoperasionalkan roket dan memiliki kemampuan sniper. Dia juga berkomunikasi dengan jaringan terorisme regional yang ada di Filipina, Pakistan, dan Afghanistan.



Sumber: BeritaSatu.com