KPK Sebut Bukti Kasus Suap Garuda Semakin Kuat

KPK Sebut Bukti Kasus Suap Garuda Semakin Kuat
Febri Diansyah. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / JAS Kamis, 4 Juli 2019 | 08:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan proses penyidikan kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero) masih terus berjalan.

Bahkan, KPK memastikan bukti-bukti terkait kasus yang menjerat mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi sekaligus beneficial owner Connaught International Pte Ltd, Soetikno Soedarjo itu semakin kuat.

"Pada dasarnya penanganan kasus ini jauh semakin menguat dalam proses penyidikan, namun KPK tetap perlu hati-hati sehingga waktu untuk penanganan perkara ini masih dibutuhkan sampai dengan saat ini," kata Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

KPK diketahui menetapkan Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka pada 16 Januari 2017, namun hingga saat ini, KPK belum juga merampungkan penyidikan kasus dugaan suap di PT Garuda. Bahkan, Emirsyah dan Soetikno hingga kini belum ditahan KPK.

Febri menjelaskan, pihaknya perlu berhati-hati dalam menangani kasus ini. Hal ini terutama lantaran perlu dilakukan penelusuran aliran dana yang cukup kompleks.

"Kami melakukan penelusuran aliran dana yang cukup Kompleks. Jadi ini yang menjadi salah satu poin kenapa Penelusuran itu harus dilakukan dengan sangat cermat," katanya.

Selain itu, Febri mengatakan, kasus ini menyangkut lintas yuridiksi sehingga memerlukan waktu dalam proses pengumpulan bukti. Setidaknya kasus ini melibatkan otoritas di Inggris dan Singapura. KPK telah bekerja sama dengan lembaga antikorupsi Inggris atau Serious Fraud Office (SFO).

SFO menangani kasus dugaan suap yang dilakukan Rolls-Royce terhadap pejabat-pejabat di sejumlah negara, termasuk pejabat di Indonesia terkait pengadaan mesin pesawat untuk Garuda Indonesia. Selain itu KPK juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Antikorupsi Singapura atau Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB) karena perusahaan milik Soetikno, Connaught International beroperasi di negeri Jiran tersebut.

"Ada aspek lintas yurisdiksi yang perlu juga kita pahami bersama dalam konteks pengumpulan bukti. Jadi ini bukan soal teknis tetapi soal proses penyidikan yang saya kira masih terus harus diperdalam dan dibuat lebih rinci," katanya.

Tak hanya itu, Febri mengatakan, pihaknya juga masih memerlukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan tersangka. Apalagi, kedua tersangka diketahui belum ditahan penyidik.

"Karena tersangka itu kan masih belum ditahan, kami masih terus melakukan proses penyidikan ini jadi nanti jika dibutuhkan oleh penyidik akan dilakukan pemanggilan saksi ataupun tersangka," katanya.

Febri menyatakan, pihaknya akan segera melimpahkan kasus ini ke tahap penuntutan setelah proses penyidikan rampung. Untuk itu, saat ini, KPK fokus menyidik kasus ini, terutama agar pemulihan kerugian negara dapat dilakukan secara maksimal.

"Kalau nanti penyidik memandang prosesnya sudah selesai di tahap penyidikan dan kemudian dari pembahasan yang dilakukan dengan Jaksa Penuntut Umum sudah bisa dilimpahkan pasti akan dilakukan pelimpahan. Kepentingan KPK adalah agar proses pembuktian nanti bisa jauh lebih sempurna dan agar pengembalian kerugian keuangan negara juga bisa lebih maksimal dalam konteks penelusuran dugaan aliran dana yang diterima oleh tersangka," katanya.

Dalam kasus ini, KPK menyangka Emirsyah Satar telah menerima uang sebesar US$ 2 juta dan dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta dari Rolls-Royce melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai beneficial owner Connaught International. Suap itu diduga terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. 

 



Sumber: Suara Pembaruan