Presiden Jokowi Siap Berikan Amnesti untuk Baiq Nuril

Presiden Jokowi Siap Berikan Amnesti untuk Baiq Nuril
Aksi penolakan eksekusi Baiq Nuril. ( Foto: Antara )
Novy Lumanauw / FMB Jumat, 5 Juli 2019 | 17:57 WIB

Manado, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa dirinya menghormati putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak permohonan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Baiq Nuril Maknun.

Sebelumnya, Baiq Nuril divonis MA telah melanggar UU ITE dan terancam pidana penjara serta denda. Perempuan yang sebelumnya staf tata usaha SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat menjadi korban pelecehan seksual dan divonis bersalah oleh MA.

Ditolaknya permohonan PK tersebut, putusan kasasi MA yang menghukum Baiq dinyatakan tetap berlaku. Meski demikian, Kepala Negara mengatakan bahwa sejak awal terus memberi perhatian penuh atas jalannya kasus ini dan memantau perkembangannya.

"Perhatian saya sejak awal kasus ini tidak berkurang, tetapi sekali lagi, kita harus menghormati putusan yang sudah dilakukan oleh Mahkamah Agung," kata Kepala Negara di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, sebelum bertolak ke Jakarta pada Jumat (5/7).

Kepada para jurnalis yang meminta pendapatnya mengenai putusan MA itu, Presiden mengatakan, tidak ingin mengomentari hal tersebut. Sebab, menurutnya, putusan MA merupakan wilayah kerja lembaga yudikatif.

"Nanti kalau sudah masuk ke saya, menjadi wilayah kewenangan saya. Ya, akan saya gunakan kewenangan yang saya miliki," katanya.

Sebagai tindak lanjut untuk menyikapi putusan tersebut, Presiden akan menggunakan kewenangan yudisialnya sebagaimana diatur dalam konstitusi. Namun, ia terlebih dahulu akan membahasnya dengan jajaran terkait sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

"Saya akan bicarakan dulu dengan Menteri Hukum dan HAM, biasanya juga dengan Jaksa Agung dan Menko Polhukam, untuk menentukan apakah amnesti, apakah yang lainnya," tuturnya.

Ketika ditanyakan mengenai kemungkinan dibolehkannya pihak Baiq Nuril untuk mengajukan amnesti kepada Presiden, Kepala Negara menjawab, “Secepatnya.”

Baiq Nuril dijerat dengan UU ITE dan divonis MA hukuman 6 bulan penjara serta denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan. Padahal di tingkat pengadilan negeri, Baiq Nuril dinyatakan bebas.