BNN Ungkap Pencucian Uang Gembong Narkoba di Asahan

BNN Ungkap Pencucian Uang Gembong Narkoba di Asahan
Ilustrasi ( Foto: Antara/Adiwinata Solihin )
Arnold H Sianturi / YUD Jumat, 12 Juli 2019 | 16:04 WIB

Medan, Beritasatu.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari gembong narkoba yang ditangkap di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut), 3 Juli 2019 lalu.

Selain menyita sabu-sabu seberat 81 kilogram (Kg) dan 102.657 butir pil ekstasi, BNN juga menyita uang Rp 2,5 miliar, enam unit mobil mewah, sejumlah bangunan rumah, aliran transaksi dana dan lainnya.

"Aset-aset yang disita ini merupakan milik bandar besar narkoba atas nama Tarmizi," ujar Direktur TPPU BNN, Brigjen Pol Bahagia Dachi saat menggelar konferensi pers di Markas BNN Sumut, Jumat (12/7/2019).

Bahagia Dachi mengatakan, dalam menjalankan bisnis penyelundupan narkoba skala besar itu, Tarmizi juga melibatkan keluarganya. Hasil dari transaksi narkoba itu dibelikan mobil mewah maupun rumah.

Keluarga Tarmizi yang terlibat dalam bisnis narkoba itu yakni, Adi Putra, Ardiansyah, Fadli, Hanafi, Amirudin, Zul AB dan Nazarudin. Mereka meliputi ipar, anak dan menantu dari Tarmizi. BNN memastikan istri Tarmizi terlibat.

Bahagia Dachi mengungkapkan, seluruh barang bukti yang disita polisi dari kasus tindak pidana pencucian uang itu merupakan hasil dari transaksi narkoba. Seluruh aset itu dibeli Tarmizi selama beberapa bulan.

"Sampai saat ini, petugas kita masih melacak aset lain milik Tarmizi, baik itu aset yang bergerak maupun tidak. Kita memastikan mereka ini sudah lama terlibat dalam bisnis haram itu," katanya.

Dalam pemeriksaan, Tarmizi mengaku baru tiga kali terlibat dalam menyelundupkan narkoba dari Malaysia melalui perairan di Asahan dan Tanjung Balai. Dia membantah sudah lama terlibat jaringan narkoba.

"Itu masih sebatas pengakuannya kepada petugas yang menginterogasinya. Mengingat jumlah aset dan uang yang disita, kita tidak serta merta mempercayai. Kita akan ungkap lewat transaksi melalui rekening bank," katanya. 

Kepala Biro Humas BNN, Brigjen Pol Sulistyo Pudjo menyampaikan, BNN masih melakukan pengejaran terhadap jaringan narkoba tersebut. Sebab, Tarmizi merupakan bandar besar narkoba jaringan internasional.

Para pelaku yang ditangkap itu, sambungnya, dijerat dengan Pasal 137 huruf a dan b, Pasal 3 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 5 (1) jo Pasal 10 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.

"Berdasarkan penerapan pasal yang dilanggar itu, maka ancaman terberat adalah hukuman mati maupun penjara seumur hidup. Hukuman yang paling ringan selama 20 tahun penjara," sebutnya. 



Sumber: Suara Pembaruan