Koalisi Masyarakat Buka Pos Pengaduan Rekam Jejak Capim KPK

Koalisi Masyarakat Buka Pos Pengaduan Rekam Jejak Capim KPK
Pansel Pimpinan KPK Minta Masukan Kriteria Capim ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Fana Suparman / MPA Selasa, 16 Juli 2019 | 20:28 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Koalisi Kawal Capim KPK membuka pos pengaduan terkait rekam jejak 192 kandidat yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat melapor bila mengetahui atau menemukan adanya capim KPK yang diduga bermasalah terkait maladministrasi, korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, dan pelanggaran hukum lainnya.

"Pos yang bersifat independen ini diharapkan dapat menjadi rumah bagi aduan masyarakat. Dari pengaduan ini akan rutin disampaikan oleh koalisi, agar dapat dijadikan pegangan oleh Pansel serta pemahaman bagi publik terkait isu pemilihan Pimpinan KPK," kata peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana di Kantor LBH Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Pos Pengaduan Masyarakat terhadap Rekam Jejak Calon Pimpinan KPK dibuka sejak 16 Juli hingga 30 Agustus 2019 melalui situs http://bit.ly/pengaduancapimkpk. Kurnia mengatakan, pos pengaduan ini untuk memastikan proses pemilihan pimpinan KPK berlangsung secara transparan. Dengan demikian, dari proses seleksi tersebut dapat menghasilkan Komisioner yang benar-benar diharapkan oleh masyarakat.

"Masyarakat dapat melaporkan kasus yang pernah dialami atau diketahui pada saat calon pimpinan KPK menjabat di instansi terkait," katanya.

Diketahui Pansel Capim KPK telah rampung menyeleksi administratif para capim yang mendaftar. Dari 376 calon yang mendaftar kepada Pansel untuk mengikuti proses seleksi terdapat 192 orang yang dinyatakan lolos seleksi administrasi.

Sebanyak 192 calon yang lulus uji administrasi diwajibkan mengikuti tes uji kompetensi yang bakal digelar di Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara, Jalan Gaharu I nomor 1, Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (18/7) mendatang Tes uji kompetensi itu meliputi objective test dan penulisan makalah.



Sumber: Suara Pembaruan