Gagal Temukan Tersangka Kasus Novel, Tim Pakar Ajukan Probabilitas

Gagal Temukan Tersangka Kasus Novel, Tim Pakar Ajukan Probabilitas
Novel Baswedan. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / YUD Rabu, 17 Juli 2019 | 16:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim pakar dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK Novel Baswedan April 2017 dipastikan gagal menemukan pelaku dan aktor dibalik kasus ini.

Tim yang bekerja selama enam bulan dan dibentuk oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu hanya memberi semacam road map bagi polisi dalam pengusutan kasus ini ke depan.

Dalam jumpa pers, Rabu (17/7/2019) yang difasilitasi oleh Mabes Polri dan dimoderatori oleh Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal itu tim mengelaborasi teori motif deduktif atau probabilitas dalam kasus ini.

Artinya tim mencoba mengurai kasus ini dari atas. Bukan sekadar memperdalam proses induktif yang berangkat dari TKP atau proses investigasi dari bawah.

Hadir para anggota tim seperti Hendardi, Nur Kholish, Indriyanto Seno Adji, Ifdhal Kasim, Poengky Indarti, dan Abdul Azis Wahab. Tidak nampak unsur KPK dalam jumpa pers ini meski mereka adalah bagian dari tim pakar juga.

Teori motif yang dimaksud adalah tim menemukan fakta bahwa terdapat probabilitas serangan ini adalah balas dendam kepada Novel akibat penggunaan kewenangan secara berlebihan olehnya.

“Dari pola penyerangan dan keterangan saksi korban ini tidak terkait dengan pribadi seperti hutang, warisan, atau selingkuh tapi karena pekerjaannya. Kami baru mampu meneliti enam kasus yang (berkaitan dengan Novel) yang bisa jadi terkait dengan penyerangan ini,” kata Nur Kholis dalam paparannya.

Enam kasus itu adalah kasus E KTP, kasus mantan ketua MK, kasus mantan Sekjen MA, kasus Bupati Buol, kasus wisma atlit, dan kasus yang tidak dalam penanganan KPK yakni kasus burung walet di Bengkulu tapi terkait Novel. Dalam kasus terakhir itu Novel sempat jadi tersangka di Mabes Polri karena dituduh salah menembak tersangka.

Mengapa hanya framing enam kasus itu sementara Novel bahkan pernah menyelidiki dan berhadapan dengan jenderal Polri yang dituduh korupsi? Nur Kholis menjawab,”Tim membuka tidak hanya dalam kasus ini. Kasus simulator SIM ini ada diskursus, maka karena keterbatasan waktu saja. Jadi ini serangan baliknya.”

Hendardi menambahkan jika enam kasus ini jadi sorotan tim bukan karena jatuh dari langit. Tim melakukan pengusutan dan mempunyai saksi-saksi mengapa enam kasus ini yang akhirnya lebih menjadi prioritas soal teori motif.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 Maret 2017. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.



Sumber: BeritaSatu.com