Tim Kapolri Tak Mampu Ungkap Pelaku Teror Novel Adalah Kegagalan Polri

Tim Kapolri Tak Mampu Ungkap Pelaku Teror Novel Adalah Kegagalan Polri
Tak Terungkapnya Pelaku Penyerangan Novel Baswedan ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Fana Suparman / MPA Rabu, 17 Juli 2019 | 20:14 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Tim pakar yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah gagal mengungkap pelaku teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Tim advokasi Novel menilai, kegagalan tim tersebut merupakan kegagalan Polri sebagai institusi. Hal ini lantaran penanggungjawab tim tersebut merupakan Kapolri.

"Kegagalan Tim Satgas tak lain dan tak bukan adalah kegagalan dari Kepolisian RI mengingat penanggungjawab dari Tim Satgas Polri adalah Kapolri," kata Kuasa Hukum Novel, Alghiffari Aqsa dalam konferensi pers bersama Wadah Pegawai KPK (WP-KPK) dan Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Alghiffari menegaskan tanpa pengungkapan pelaku, kasus teror terhadap Novel masih gelap. "Tim Satgas Polri telah gagal mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Sampai hari ini, pada konferensi pers yang dilakukan Tim Satgas Polri, masih belum ditemukan siapa yang bertanggungjawab baik sebagai pelaku lapangan maupun pelaku intelektual atas kasus tersebut. Kasus Novel masih berada dalam kegelapan selama belum ditetapkannya tersangka atas kasus ini," katanya.

Alghiffari menyoroti  terjadinya kontradiksi antara penjelasan dengan kesimpulan yang disampaikan Tim Pakar. Tim yang telah bekerja selama enam bulan itu mengaku menemukan banyaknya alat bukti mulai dari 74 saksi, 38 rekaman CCTV serta dibantu oleh Australian Federal Police. Namun kesimpulan dari tim bentukan Kapolri itu malah menyatakan tidak ada alat bukti.

"Selain itu, Tim Satgas Polri seakan-akan malah menyalahkan penggunaan kewenangan berlebihan dari Novel Baswedan namun tanpa adanya terduga yang terindentifikasi melakukan kejahatan. Hal ini menunjukan bahwa Tim Satgas Polri telah mencoba membangun opini yang spekulatif, tanpa adanya bukti yang mencukupi. Selain itu, Tim Satgas Polri diperuntukkan untuk mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, bukan untuk mendalami kasus-kasus di luar tugas, pokok dan fungsinya (tupoksi)," tegasnya.

Alghiffari juga menyoroti keluhan tim gabungan soal kurangnya sumber daya. Padahal, lanjut dia, Kepolisian adalah unsur terbesar dalam tim gabungan yang memiliki berbagai sumber daya yang mumpuni dalam berbagai kasus.
"Bahkan berbagai macam kasus pembunuhan, perampokan, penjambretan, yang minim alat bukti saja dapat diungkap oleh Polri hanya dalam waktu hitungan jam," katanya.

Ditegaskan, penyerangan kepada Novel Baswedan sebagai penyidik bukanlah serangan pertama sehingga harus dilihat sebagai serangan yang dilakukan secara sistematis dan harus dipandang sebagai bagian dari rangkaian yang tidak terpisahkan dari penyerangan terhadap KPK. Ditegaskan, pembiaran penyerangan dan teror terhadap pegawai, struktural, maupun Pimpinan KPK menjadi angin segar bagi berbagai pihak untuk melakukan penyerangan lanjutan terhadap KPK dan melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

"Rekomendasi Tim Satgas Polri untuk membentuk Tim Teknis hanyalah upaya untuk kembali mengulur-ngulur waktu dan semakin mengaburkan pengungkapan kasus ini penyerangan terhadap Novel Baswedan," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan