Diberi Waktu 3 Bulan Oleh Presiden, Polri: Kami Optimistis

Diberi Waktu 3 Bulan Oleh Presiden, Polri: Kami Optimistis
Novel Baswedan. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / JAS Jumat, 19 Juli 2019 | 19:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri angkat bicara terkait perintah Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan 11 April 2017 lalu selama tiga bulan ke depan.

“Yang perlu dipahami, bahwa setiap kasus karakteristiknya berbeda, dari karakteristik itu akhirnya menimbulkan persoalan dan kendala yang dapat terjadi secara berbeda juga,” kata Kabag Penum Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jumat (19/7/2019).

Ada kasus yang ringan dan mudah sekali diungkap kemudian ada kasus-kasus yang berat membutuhkan waktu yang cukup panjang. Menurut Asep, presiden juga sudah menekankan bahwa kasus ini cukup rumit.

“Tadi disampaikan kita ada beberapa kendala dalam saksi-saksi di TKP dan sekitarnya. CCTV setelah kita coba sampai ke AFP tapi belum maksimal menemukan bukti -bukti elektronik karena terkendala dari kualitasnya,” sambungnya.

Asep mengaku tetap optimistis Polri bisa mengungkap kasus yang sudah berumur dua tahun lebih itu. Polisi selalu memerhatikan masukan dan rekomendasi Komnas HAM, Kompolnas, dan ombudsman.

“Kita telah membuat tim pencari fakta yang saya kira isinya profesional dan independen. Mereka profesional terbaik berdasarkan kemampuan dan kapasitasnya. Minggu depan akan ditetapkan keseluruhan tim teknis itu,” sambungnya.

Tim teknis dikomandani oleh Kabareskrim Komjen Idham Azis dan berisi sejumlah unsur termasuk Dirtipidum Bareskrim Brigjen Nico Alfinta. Sebenarnya kedua nama itu juga bukan orang baru dalam kasus ini.

Idham adalah mantan Kapolda Metro Jaya. Dia bahkan telah melansir sketsa wajah dua orang yang diduga pelaku dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, 24 November 2017 silam setelah dia menemui pimpinan KPK.

Pun dengan Nico yang juga wajah lama dalam kasus ini. Nico, yang waktu itu menjabat Dirkrimum Polda Metro Jaya pada 2018 lalu, telah meminta Novel memberikan keterangan kepada penyidik terkait kasus penyerangan yang dialaminya.

Bahkan kedua nama itu juga terlibat dalam tim pakar yang baru bubar itu. Idham adalah ketua tim sedangkan Nico adalah wakil ketua.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.



Sumber: BeritaSatu.com