Pansel Capim KPK Gunakan Passing Grade Tentukan Kelulusan Uji Kompetensi

Pansel Capim KPK Gunakan Passing Grade Tentukan Kelulusan Uji Kompetensi
Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK periode 2019-2023 Yenti Ganarsih (tengah), bersama sejumlah anggota Pansel KPK memberikan keterangan pers terkait hasil uji kompetensi calon pimpinan KPK di Jakarta, Senin 22 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / FMB Selasa, 23 Juli 2019 | 10:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Panitia Seleksi (pansel) Calon Pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan passing grade atau persentase nilai untuk menentukan kelulusan uji kompetensi. Uji kompetensi terdiri atas tes objektif dan makalah.

“Kami tentukan passing grade. Kami berikan bobot objective test 60 persen dan makalah 40 persen,” kata anggota Pansel Capim KPK Harkristuti Harkrisnowo di Gedung Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (22/7/2019).

Harkristuti menyatakan, pihaknya tidak menentukan jumlah peserta seleksi yang lulus. Harkristuti menegaskan, penilaian tes objektif sepenuhnya dilakukan oleh komputer. “Jadi angka-angka otomatis,” ungkap Harkristuti.

Untuk makalah, Harkristuti menjelaskan, pihaknya mengundang penilai independen yang berasal dari berbagai latar belakang. Penilai ada 12 orang dari akademisi, praktisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

“Setiap feature dari peserta dibaca tiga orang, sehingga kami dapat hasil yang baik. Hasil dari independent reader dan objective test yang kami gunakan untuk tentukan siapa yang lolos dan tidak,” imbuh Harkristuti.

Sekadar diketahui, uji kompetensi telah dilakukan pada tanggal 18 Juli lalu. Dari 187 orang peserta, hanya 104 peserta seleksi lolos seleksi uji kompektensi. Peserta yang lolos akan mengikuti seleksi tahap selanjutnya yakni tes psikologi.

“Dari 192 orang yang dipanggil mengikuti uji kompetensi capim KPK masa jabatan 2019-2023 yang hadir sebanyak 187 orang. Yang dinyatakan lulus 104 orang,” kata Ketua Pansel Capim KPK Yenti Ganarsih.

Yenti menuturkan, peserta yang lolos terdiri atas enam wanita dan 98 pria dari berbagai macam latar belakang profesi. Polri sembilan orang, pensiunan Polri tiga orang, hakim tujuh orang, mantan hakim dua orang, jaksa empat orang, pensiunan jaksa dua orang, dosen 19 orang, dan advokat 11 orang.

“Lalu auditor empat orang, unsur KPK 14 orang. Komjak dan Kompolnas tiga orang. PNS 10 orang, pensiunan PNS tiga orang dan lain-lain 13 orang,” ungkap Yenti.

Peserta yang mengikuti tes psikologi pada 28 Juli wajib membawa KTP. “Hadir 30 menit sebelum pelaksanaan tes dimulai untuk melaksanakan registrasi. Peserta yang tidak hadir mengikuti tes psikologi dinyatakan gugur,” demikian Yenti.



Sumber: Suara Pembaruan