BNN: Tren Pergerakan Narkoba dari Laut Malaysia ke Timur

BNN: Tren Pergerakan Narkoba dari Laut Malaysia ke Timur
Deputi Berantas BNN RI, Irjen Pol Arman Depari memberikan pernyataan kepada awak media terkait pengungkapan dua operasi narkotika di Sumatera Utara dan Kalimantan di Markas BNN RI, Cawang Jakarta Timur, Selasa, 23 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / CAH Selasa, 23 Juli 2019 | 11:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) melihat ada tren pergerakan sindikat narkoba internasional maupun sindikat lokal yang mendatangkan sabu dan ekstasi dari perbatasan wilayah perairan Malaysia menuju wilayah Indonesia Timur.

"Mereka (sindikat kurir narkoba) sudah bergerak mengedarkan di wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Kami melihat dan mengantisipasi ada pergerakan mereka bergerak ke arah Manado dan Papua," ujar Deputi Berantas BNN RI, Irjen Pol Arman Depari, Selasa (23/7/2019) di loby Markas BNN, Cawang Jakarta Timur kepada awak media.

Dalam kegiatan operasi penangkapan terakhir, Arman mengungkapkan pihaknya berhasil melakukan pengungkapan 81,8 kilogram sabu dan 102.657 butir pil ekstasi di Sumatera Utara pada 2-3 Juli 2019 lalu.

"Pertama di Tanjung Balai Asahan, kita mendapatkan informasi akan ada penyelundupan narkoba dari Malaysia menggunakan jalur laut dan kita lakukan penggeledahan di perlintasan rel kereta simpang Gaplek Air Joman di Kabupaten Asahan," ungkap Arman.

Dalam melakukan aksinya para pelaku menyembunyikan narkoba di dalam bagian dalam ban mobil bekas. 8 orang tersangka yang diamankan dalam operasi di Sumatera Utara yakni AR, APS, F, H, AM, N, ZA, dan T.

Sedangkan dalam operasi di Kalimantan, Arman menjelaskan adanya penyelundupan narkotika ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dari Malaysia menggunakan jalur transportasi laut dengan tujuan Samarinda melalui rute Tawau, Sebatik, Tarakan, dan Tanjung Selor.

"Petugas sempat kehilangan target karena tersangka dan BB berhasil memindahkan 38 kg sabu ke dalam mobil. Kita berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan razia kendaraan mobil yang melintas," kata Arman.

Dari penangkapan di Kalimantan tersebut pihak BNN mengamankan AF, namun satu orang lainnya berhasil melarikan diri dengan membawa sejumlah barang bukti narkotika lainnya dan masih dalam pengejaran.

"Narkoba yang kita ungkap biasanya dikemas dalam kemasan teh dengan aksara Tionghoa. Yang belakangan kita temukan justru narkoba tanpa kemasan sama sekali hanya plastik bening. Kemungkinan ini trik yakni pabrik dan sindikat kemungkinan sama. BNN akan memeriksakan lebih mendalam dalam laboratorium apakah proses pemurnian narkotika ini sama, jika sama berasal dari pabrik yang sama," tutup Arman.

Ke-9 pelaku dalam kasus Sumatera Utara dan Kalimantan tersebut dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 Junto Pasal 132 ayat 1 Junto Pasal 112 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.



Sumber: Suara Pembaruan