Jejaki Dana ISIS-JAD, Polri Panggil Perwakilan Dubes

Jejaki Dana ISIS-JAD, Polri Panggil Perwakilan Dubes
Brigjen Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / YUD Rabu, 24 Juli 2019 | 18:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri akan berkoordinasi dengan sejumlah negara sahabat terkait transfer dana teror yang diterima Saefulah alias Dahniel alias Chaniago. Mantan penjaga perpustakaan di Ponpes Ibnu Masud di Jawa Barat yang muncul menjadi tokoh ISIS-JAD yang paling berbahaya ini menerima dana ratusan juta.

“Minggu-minggu ini Densus akan memanggil perwakilan Kedubes terkait untuk saling tukar informasi untuk mengungkap jaringan JAD yang di Indonesia maupun di beberapa negara. Termasuk mengecek aliran dana ini dengan PPATK,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7/2019).

Polisi juga tengah mengejar seseorang bernama Abu Saedah untuk mengungkap jaringan di bawahnya. Saedah diduga terkait dengan Saefulah dan seorang bernama M Novendri yang merupakan bendahara jaringan. Nama yang terakhir telah dibekuk.

“Jika ketangkap semua akan terurai. Aliran dari luar negeri kita kan sudah dapat ini tinggal aliran dari dalam negeri dimana salah satu penyandang dana di Bekasi juga memiliki latar belakang toko reparasi elektronik itu,” lanjutnya.

JAD Klaten-Sibolga juga ada yang sampai menjual mobil dan menggadaikan tanahnya untuk operasional kelompok mereka yang memiliki banyak rencana teror di dalam dan luar negeri.

Seperti diberitakan Safeulah yang buron dan diyakini berada di Kurasan, Afganistan setelah kabur dari Suriah itu berjejaring dengan pendukung ISIS di dunia. Dia mengantongi hampir USD 28 ribu atau Rp 413 juta menggunakan Western Union.

Dana itu ditransfer dari 12 orang. Rinciannya empat kali dari Yahya Abdul Karim, Fawaaz Ali, Keberina Deonarine, Ricky Mohammed dua kali, dan Ian Marvin Balley; kelimanya dari negara Trinidad Tobago.

Lalu ada Ahmed Afrah dari Maldives. Juga ada Pedro Manuel dari Venezuela; Mahboob Suliman, Simouh Ilyaas keduanya dari Jerman, Muslih Alih dari Maldives, Furkan Cinar dari Trinadad dan Tobago, serta Jonius Onde dari Malaysia.

Uang itu dipergunakan berbagai hal. Misalnya diberikan kepada Yoga—yang ditangkap di Malaysia— untuk membeli senjata di Filipina dan membiayai Muhammad Aulia dan 10 orang lain ke Kurasan, Afganistan.

Aulia dideportasi dari Bangkok 13 Juni lalu dan ditangkap Densus setibanya di Kuala Namu, Medan. Saefullah juga terkait dengan Heru Kuncoro alis Ucang yang merupakan adik ipar Dulmatin (tokoh Bom Bali 1).

Heru dibekuk di Bandara Soekarno Hatta saat hendak ke Iran. Heru juga merupakan mantan napi terorisme yang bebas pada 2017 lalu. Heru terkait Abu Walid tokoh ISIS asal WNI yang tewas di Suriah pada Januari lalu.

Uang itu juga diberikan ke Novendri yang berencana mengebom Polda Sumbar dan Polresta Padang pada momen 17 Agustus nanti. Beruntung Novendri sudah dibekuk.

Dana dari Novendri juga mengalir ke jaringan MIT yang dipimpin Ali Kalora di Poso dan juga diterima Bondan pimpinan JAD Bekasi. Bondan yang telah dibekuk juga berencana membuat bom TATP untuk mengebom aksi demo 22-22 Mei di Bawaslu.



Sumber: BeritaSatu.com