Dapat Gelar Profesor Kriminologi, Yasonna Soroti Persoalan Narkoba

Dapat Gelar Profesor Kriminologi, Yasonna Soroti Persoalan Narkoba
Yasonna Laoly. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / WBP Kamis, 25 Juli 2019 | 10:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Yasonna H Laoly mengungkapkan keprihatinannya atas banyaknya pengguna narkotika yang menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan). Dikatakan, lebih dari separuh penghuni lapas dan rutan di Indonesia terkait kejahatan narkoba.

“Ada satu keanehan kejahatan narkoba ini sudah melebihi 50 persen dari penghuni lapas dan rutan seluruh di di Indonesia,” kata Yasonna H Laoly dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Keprihatian terkait banyaknya pengguna narkoba yang mendekam di lapas dan rutan ini disampaikan Yasonna tidak hanya sebagai Menkumham, melainkan sebagai seorang akademisi yang melihat persoalan hukum dari banyak aspek. Yasonna diketahui telah diangkat dalam jabatan profesor dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Kriminologi.

Surat pengangkatan tersebut ditandatangani Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir pada 11 Juli 2019. Selama ini Yasonna kerapmenjadi dosen tidak tetap pada Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian.

Yasonna menyatakan keinginannya agar persoalan narkoba di Indonesia dapat ditangani secara holistik dan tidak hanya dari segi penegakan hukum saja. Yasonna berharap ada kajian atau penelitian ilmiah yang dapat berkontribusi menyelesaikan persoalan narkotika di Indonesia.

Mengutip data Kemkumham akhir tahun 2018 lalu, diketahui bahwa penghuni lapas di Indonesia mencapai 256.273 orang. Sementara, kapasitas hunian lembaga pemasyarakatan hanya untuk 126.164 orang. Artinya, penghuni lapas mencapai 203 persen dari daya tampungnya.

Dalam laporan tersebut Yasonna mengatakan bahwa penambahan penghuni itu setiap tahunnya rata-rata mencapai angka 22 ribu orang. perinciannya, pada 2017 jumlah penghuni lapas mencapai 232.080, meningkat dibandingkan pada 2016 yakni 204.549 orang, dan 2015 hanya sebanyak 173.572 orang. Sedangkan pada tahun 2018 meningkat 24.197 orang.

Berdasar data tersebut, diketahui jumlah narapidana khusus terdiri dari 5.110 napi korupsi, lalu 74.037 bandar narkoba, 41.252 napi narkoba pengguna, 441 napi teroris, 165 pencucian uang, dan 890 pelaku penebangan liar atau illegal logging.

Sebagai Menteri, Yasonna juga mendorong lembaga yang dipimpinnya melakukan upaya dari segi akademis untuk mengatasi persoalan narkoba di Indonesia. “Itu sebabnya saya sudah meminta ada penelitian khusus yang kita lakukan tentang itu (narkoba),” kata Yasonna H Laoly.

Yasonna yang memperoleh gelar Ph.D di North Carolina State University, Amerika Serikat pada tahun 1994 dan tercatat sebagai anggota The American Society of Criminology serta anggota The Shoutern Sociological Society ini ingin pengalamannya dalam segi keilmuan dapat berkontribusi bagi masyarakat banyak. Apalagi, selain akademisi, Yasonna memiliki pengalaman sebagai anggota legislatif dan saat ini masih menjabat sebagai menteri.

“Dengan ini saya pasti berbakti dan melakukan tugas-tugas saya sebagai seorang dosen di PTIK. Dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman saya di kriminologi, lalu di DPR terlebih di Menteri, yang berurusan juga dengan lapas. Pengalaman ini akan saya gunakan sebagai bahan-bahan kuliah dan ilmu pengetahuan atau mungkin juga di tempat-tempat lain yang mengundang saya sebagai dosen atau tenaga pengajar,” papar Yasonna H Laoly.

Yasonna juga ingin pengalamannya tersebut dapat berkontribusi bagi lembaga penegak hukum ataupun instansi terkait yang memiliki andil dalam penanganan narkotika di Indonesia. “Apakah kita mau melakukan pendekatan hukum atau pendekatan kesehatan,” tutur Yasonna H Laoly.

Menurutnya, jika pendekatannya adalah pendekatan kesehatan maka sudah pasti pemakai yang sudah bertahun-tahun jalan keluarnya hanyalah rehab bukan penjara. Hal inilah yang menurutnya dilakukan oleh negara-negara lain.

“Maka saya menyuruh litbang yang ada di Kementerian kami untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif tentang kejahatan narkotika. Yang dilakukan ini sekarang nanti saya mau tahu hasilnya, datanya yang banyak supaya menjadi bahan kami untuk melakukan analisis,” papar Yasonna H Laoly.



Sumber: Suara Pembaruan