Kasus Novel Dibawa ke Amerika, Polri: Tak Benar Kami Tak Mau Ungkap

Kasus Novel Dibawa ke Amerika, Polri: Tak Benar Kami Tak Mau Ungkap
Sejumlah aktivis anti korupsi melakukan aksi damai dan orasi dukungan untuk Novel Baswedan di Taman Pandang, depan Istana Negara, Jakarta, 11 April 2018. ( Foto: Antara / Reno Esnir )
Farouk Arnaz / CAH Jumat, 26 Juli 2019 | 15:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri tidak ambil pusing dengan langkah Amnesty Internasional membawa isu penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan ke depan Kongres Amerika dan ke sejumlah badan PBB di New York.

“Polri tetap berfokus pada pekerjaan pokoknya. Kewajiban kita setelah ini melanjutkan rekomendasi tim pencari fakta dengan cara membentuk tim teknis. Prinsipnya Polri bekerja secara profesional atas apa yang disampaikan oleh pemerintah dan masyarakat. Ini semua jadi motivasi kita untuk bekerja lebih keras untuk mengusut kasus ini,” kata Kabag Penum Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri Jumat (26/7).

Menurut Asep, Polri telah menanganani kasus ini sejak Novel diserang pada 11 april 2017 lalu. Pimpinan Polri dan pemerintah juga sangat concern terhadap peristiwa ini. Juga ada tim pencari fakta yang telah bekerja selama enam bulan.

“Kalau ada pendapat kalau ini tidak terungkap seolah-olah karena persoalan (tiadanya) 'kemauan' mengungkap, saya kira tidak. Kemauan Polri untuk mengungkap perkara itu sangat kuat dibuktikan tadi ada satgas juga atau tim pencari fakta ada disana,” imbuhnya.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta berteori jika Novel diserang karena enam kasus yang ditanganinya. Novel menambahkan jika bisa jadi dia serang terkait kasus buku merah.

Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat pengusaha daging dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK Roland dan Harun belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut.

Mereka juga membubuhkan tip ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Pasalnya sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi kepolisian RI meski telah berulangkali dibantah.



Sumber: BeritaSatu.com