Dua Tahun Kasus Novel Berlalu, Tim Teknis Kembali ke TKP

Dua Tahun Kasus Novel Berlalu, Tim Teknis Kembali ke TKP
Penyidik KPK Novel Baswedan dirujuk ke RS JEC Menteng setelah disiram air keras. ( Foto: Beritasatu TV )
Farouk Arnaz / YUD Rabu, 31 Juli 2019 | 19:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Surat perintah tim teknis yang bekerja mengusut penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan sudah ditandatangani oleh Kapolri Jenderal Tito Karmavian. Tim yang diklaim terdiri dari 90 orang itu akan bekerja mulai besok, Kamis (1/8/2019).

“Sprint sudah di tandatangani oleh kapolri. Jadi hari ini pendistribusian Sprint pada seluruh personel yang terlibat dalam tim teknis pengungkapan kasus saudara Novel. Besok tim teknis sudah langsung bekerja sesuai dengan pelaksanaan tugas dengan kompetensi masing-masing,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (31/7/2019).

Tim teknis dikatakan Dedi sebagai penyidik terbaik yang dimiliki Polri. Tim akan melakukan analisa TKP dulu sebagai titik tolak pekerjaan awal sesuai dengan teori pembuktian bahwa setiap peristiwa pidana selalu bermula dari TKP.

“Pengolahan TKP yang baik dengan didukung sebuah peralatan dan proses pembuktian secara ilmiah tingkat presentase pengungkapan kasus bisa 60-70 persen. Triangle accident itu ada disitu TKP, barang bukti, dan tersangka. Jadi segitiga itu diolah kembali tim . Ada labfor, inafis, dan tim IT,” imbuhnya.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta berteori jika Novel diserang karena enam kasus yang ditanganinya. Novel bahkan menyatakan bahwa bisa jadi dia diserang terkait kasus buku merah.

Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat pengusaha daging dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK Roland dan Harun belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut.

Mereka juga membubuhkan cairan penghapus untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Pasalnya sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi kepolisian RI meski telah berulangkali dibantah.



Sumber: BeritaSatu.com