Dua Tahun Berlalu, Tim Novel Membengkak Jadi 120 Orang

Dua Tahun Berlalu, Tim Novel Membengkak Jadi 120 Orang
Brigjen Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / YUD Kamis, 1 Agustus 2019 | 15:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim teknis yang bekerja mengusut penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan sudah ditandatangani oleh Kapolri Jenderal Tito Karmavian. Tim membengkak menjadi 120 orang dari rencana semula 90 orang.

“Tim teknis hari ini sudah bekerja. Jumlah anggotanya ada 120 orang, Kenapa? Ini menunjukkan bahwa komitmen Polri untuk mengungkap secepat-cepatnya kasus yang menimpa Novel. Tim bekerja dari 1 Agustus sampai 31 Oktober,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Kamis (1/8/2019).

Artinya tim akan bekerja 3 bulan di tahap pertama kemudian nanti kalau perlu diperpanjang, akan diperpanjang untuk 3 bulan lagi. Tim dievaluasi tiap satu semester.

“Kami mohon doanya, semoga dalam waktu yang sesuai dengan instruksi bapak presiden, tim ini bisa menjawab siapa pelakunya. Penanggung jawabnya Pak Kabareskrim, ketua tim teknis Brigjen Nico Afinta, Dirtipidum. Dibantu sub tim penyelidik, sub tim penyidik, interogator, kemudian surveilance termasuk Densus, siber, sub tim Inafis, labfor, dan sub tim anev,” urainya.

Mereka akan mengevaluasi hasil temuan dari pada sub tim-sub tim tersebut. Kemudian timeline sudah dibuat dimana Polri berkomitmen dan serius kerjas keras dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

“Kita masih fokus temuan atau hasil investigasi dari tim pertama yang dipimpin Kapolda Metro. Itu nanti diassesment kembali, nanti kita juga akan menindaklanjuti hasil temuan kombinasi tim gabungan kemarin. Yang jelas secara teknis ini sudah dipersiapkan jauh lebih matang dan komprehensif, lebih mengkerucut,” tegasnya.

Menurut Dedi tidak semua penyidik adalah orang baru. Ada tim lama yang dilibatkan karena mereka yang melakukan proses investigasi, penyelidikan dari awal maupun yang baru. Tim tetap berawal dari TKP dan temuan-temuan yang sudah disampaikan.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta berteori jika Novel diserang karena enam kasus yang ditanganinya. Novel menambahkan jika bisa jadi dia diserang terkait kasus buku merah.

Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat pengusaha daging dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK Roland dan Harun belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut.

Mereka juga membubuhkan tip ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Pasalnya sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi kepolisian RI meski telah berulangkali dibantah.



Sumber: BeritaSatu.com