Suap Bowo Sidik, Petinggi Humpuss Transportasi Kimia Dituntut 2 Tahun

Suap Bowo Sidik, Petinggi Humpuss Transportasi Kimia Dituntut 2 Tahun
Tersangka Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti memasuki gedung KPK dengan pengawalan petugas untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Senin, 6 Mei 2019. Asty Winasti diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap terhadap mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dalam kerja sama pengangkutan pupuk dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. ( Foto: ANTARA FOTO / Reno Esnir )
Fana Suparman / YUD Rabu, 7 Agustus 2019 | 13:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Manager Marketing PT Humpuss Transportas Kimia (HTK) Asty Winasti untuk dihukum 2 tahun pidana penjara dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Jaksa meyakini Asty bersama dengan Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia Taufik Agustono telah menyuap anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso sebesar Rp 311.022.932 dan USD 158.733.

"Menuntut untuk memutuskan Majelis Hakim pengadilan tindak pidana korupsi, terdakwa Asty Winasti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan berlanjut. Menjatuhkan pidana selama dua tahun penjara," kata Jaksa Ikhsan Fernandi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Jaksa pun menolak permohonan Justice Collaborator (JC) yang diajukan Asty. Penolakan ini merujuk pada fakta persidangan.
"Berdasarkan fakta persidangan, permohonan yang diajukan terdakwa, maka tidak dikabulkan," tegas Jaksa Ikhsan.

Dalam menjatuhkan tuntutan ini, Jaksa mempertimbangkan sejumlah hal yang meringankan dan memberatkan perbuatan Asty. Untuk hal yang memberatkan, Asty disebut tidak mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Sementara untuk hal yang meringankan, terdakwa berlaku sopan selama di persidangan," jelas Jaksa Ikhsan.

Jaksa meyakini, suap yang diberikan Asty dan Taufik bertujuan agar Bowo selaku anggota Komisi VI DPR yang bermitra dengan Kementerian BUMN dan BUMN di seluruh Indonesia membantu PT Humpuss Transportasi Kimia mendapatkan pekerjaan jasa pengangkutan dan sewa kapal dengan PT Pilog.

Suap tersebut dilakukan secara bertahap yakni pada 1 Oktober 2018 sebesar Rp 221.522.932 di Rumah Sakit Pondok Indah melalui orang kepercayaan Bowo Sidik, Indung Andriani. Selanjutnya pada 1 November 2018 sebesar USD 59.587 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani. Selain, pada 20 Desember 2018 sebesar USD 21.327 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani.

Setelah itu pada 26 Februari 2018 sebesar USD 7.819 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani. Pada 27 Maret 2019 sebesar Rp 89.449.000 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani. Bahkan, jaksa menyebut, Asty menerima fee sebesar USD 23.977.



Sumber: Suara Pembaruan