Bisa Hambat Kreativitas, Mahasiswa Tolak RUU Keamanan Siber

Bisa Hambat Kreativitas, Mahasiswa Tolak RUU Keamanan Siber
Ilustrasi inovasi ( Foto: Google.com )
Asni Ovier / AO Senin, 12 Agustus 2019 | 14:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Rancangan Undang-Undang tentang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU Keamanan Siber) dinilai bisa menghambat kreativitas dan inovasi, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, sejumlah mahasiswa menolak kehadiran RUU tersebut.

Penolakan mahasiswa terutama pada klausul tentang perlunya lisensi dari Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) atas karya-karya yang dihasilkan. “Bagi saya, mahasiswa, ini bisa menghambat kami untuk berkembang. Aturan seperti ini bisa membuat mahasiswa yang memiliki bakat akhirnya tidak dipakai, karena harus meminta lisensi dari BSSN,” ujar Avindra, mahasiswa jurusan teknologi informasi dari Universitas Moestopo Beragama Jakarta di Jakarta, Senin (12/8/2019).

Menurut Avindra, keharusan ada lisensi dari BSSN akan mematikan kreativitas anak muda dan mematikan peluang lapangan pekerjaan, terutama di bidang teknologi informasi, yang saat ini sedang berkembang.

Kondisi saat ini, ujarnya, sudah cukup mengakomodasi ruang berekspresi anak muda. “Jadi, RUU ini berpotensi membatasi mahasiswa. Tadinya dia memiliki bakat, misalnya membuat aplikasi, sementara mereka sudah memiliki lisensi internasional. Kenapa harus meminta (lisensi) ke BSSN lagi? Belum tentu bisa dikasih lisensi atau disetujui kalau mereka punya kepentingan,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan mahasiswa jurusan TI dari Universitas Nasional, Jakarta, Rafif Ramadhan Al Yarda. “Menurut saya, RUU itu sebaiknya ditiadakan saja. Karena, kalau pun direvisi, itu hanya akan menghambat kreativitas mahasiswa dan industri yang lain untuk berkembang di dunia TI,” ujar Rafif.

Dia berharap agar pemerintah memperbaiki UU yang telah ada dibandingkan harus membuat aturan baru. Dia berharap, pemerintah tidak membatasi ruang kreativitas di bidang TI, khususnya di kalangan anak muda.



Sumber: BeritaSatu.com