Polri: Brigadir Haidar Miliki Catatan Prestasi Panjang

Polri: Brigadir Haidar Miliki Catatan Prestasi Panjang
Ilustrasi jenazah. ( Foto: Istimewa )
Fana Suparman / WBP Selasa, 13 Agustus 2019 | 14:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Mabes Polri mengatakan Brigadir (anumerta) Haidar yang disandera orang tidak dikenal (OTK) di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, hingga akhirnya ditemukan tewas Senin (12/8/2019) sore sekitar pukul 17.30 WIT adalah sosok berprestasi.

Haidar yang merupakan anggota Polda Papua berpengalaman dalam sejumlah operasi di Bumi Cendrawasih. Polisi asal Sulawesi Selatan itu berhasil menangkap para pentolan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di sejumlah tempat.

“Mendiang memiliki catatan prestasi yang cukup panjang. Dia sangat aktif dalam satgas pengungkapan kasus yang melibatkan KKB," kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Jakarta, Selasa (13/8).

Dia mengatakan, kejadian ini berawal dari informasi masyarakat. Diketahui bahwa Puncak Jaya merupakan salah satu wilayah basis KKB. Di sana KKB sering mengancam dan mengintimidasi masyarakat. Bahkan ada yang melakukan tindak pidana baik penganiayaan, pemerkosaan, maupun tindak kejahatan lainnya.

“Berangkat dari info itu mendiang bersama rekannya melakukan proses penyelidikan di wilayah tersebut. Saat penyelidikan, ia dipanggil temannya yang sama bertugas namun jalurnya berbeda. Bripka Alfonso meminta dia merapat, mungkin mau saling menukar informasi di lapangan,” sambung Dedi Prasetyo.

Pada saat dilakukan pemanggilan tersebut, secara mendadak di distrik Puncak Jaya muncul kelompok KKB yang melakukan penyergapan terhadap korban.
Bripka Afonso, karena masih di atas motor, langsung melarikan diri menjauh.

Ia menginformasikan kepada polres setempat bahwa ada satu rekannya yang disandera oleh kelompok KKB. Dari jalan raya menuju tempat penyanderaan kurang lebih sekitar hampir 100 meter.

“Namun infonya korban ini melarikan diri dan tertembak oleh kelompok KKB di bagian kepala. Kemudian TNI-Polri melakukan evakuasi terhadap jenazah. Jam 12 siang WIT, almarhum mendapat anugerah kenaikan pangkat luar biasa menjadi brigadir dan diterbangkan dari Timika menuju ke rumah duka di Sulawesi Selatan,” tambah Dedi Prasetyo.

Adapun yang diduga melakukan eksekusi adalah JM dari kelompok KKB yang dipimpin G.

Sementara korban melakukan penyelidikan dengan penyamaran dan tanpa identitas. Dia juga tak membawa senjata.



Sumber: Suara Pembaruan