Bowo Sidik Didakwa Terima Suap dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia

Bowo Sidik Didakwa Terima Suap dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia
Bowo Sidik Pangarso. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / CAH Rabu, 14 Agustus 2019 | 11:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso didakwa menerima suap dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono dan anak buahnya yang merupakan Manager Marketing PT HTK, Asty Winasty.

Bowo disebut menerima suap sebesar USD 163.733 dan Rp 311 juta dari Taufik dan Asty. Hal ini disampaikan Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kiki Ahmad Yani saat membacakan surat dakwaan terhadap Bowo Sidik Pangarso di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (14/8).

"Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut sebagai pegawai negeri atau penyelenggara negara," kata Jaksa Kiki Ahmad Yani.

Jaksa membeberkan, suap itu diterima Bowo untuk membantu PT Humpuss Transportasi Kimia mendapatkan kembali kerjasama pengerjaan sewa kapal untuk pengangkutan dari PT PILOG. Sebab, kontrak kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah diputus atau berhenti.

Jaksa Kiki menyatakan uang suap dari Taufik dan Asty sebesar 163.733 dolar Amerika Serikat dan Rp 311 juta tersebut diterima secara langsung oleh Bowo‎ Pangarso atau melalui orang kepercayaannya, M Indung Adriani. Padahal, dalam UU, penyelenggara negara dilarang untuk menerima apapun dari pihak manapun.

"Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabata‎nnya," katanya.

Atas perbuatannya tersebut, Bowo didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Nomor 20 Tahun 2001 tentang‎ pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 ‎Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP. 



Sumber: Suara Pembaruan