KPK Identifikasi Aliran Dana Rp 100 Miliar di Kasus Suap Garuda

KPK Identifikasi Aliran Dana Rp 100 Miliar di Kasus Suap Garuda
Ilustrasi korupsi. ( Foto: ist )
Fana Suparman / WBP Selasa, 20 Agustus 2019 | 10:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengidentifikasi adanya aliran uang hingga sekitar Rp 100 miliar terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. Uang dalam bentuk sejumlah mata uang ini diduga mengalir ke para tersangka dan pihak lain yang terlibat.

"Total nilai suap yang mengalir pada sejumlah pihak termasuk tersangka yang telah teridentifikasi sampai saat ini adalah sekitar Rp 100 miliar dalam bentuk berbagai mata uang, mulai dari rupiah, dolar AS, euro, dan dolar Singapura," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin (19/8) malam.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) sekaligus Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd Soetikno Soedarjo serta mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Hadinoto Soedigno sebagai tersangka. Hadinoto diduga bersama-sama Emirsyah menerima suap dari Soetikno terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia.

KPK menduga Emirsyah menerima suap sebesar 1,2 juta euro dan US$ 180.000 atau setara Rp 20 miliar dalam bentuk uang dan barang dari Soetikno terkait pengadaan mesin Roll-Royce untuk pesawat Airbus yang dipesan PT Garuda Indonesia sepanjang Emirsyah menjabat sebagai direktur utama. Dalam proses penyidikan kasus ini, KPK menemukan sejumlah fakta yang signifikan bahwa uang suap yang diberikan Seotikno kepada Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya berasal dari perusahaan Rolls-Royce, tetapi juga berasal dari pihak pabrikan lain yang mendapatkan proyek di PT Garuda Indonesia.

Untuk program peremajaan pesawat, Emirsyah Satar melakukan beberapa kontrak pembelian dengan empat pabrikan pesawat pada 2008-2013 dengan nilai miliaran dolar Amerika Serikat, yakni kontrak pembelian mesin Trent seri 700 dan perawatan mesin atau Total Care Program dengan perusahaan Rolls Royce, kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus S.A.S, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR) dan kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.
"Dalam kasus ini KPK juga mengidentifikasi dugaan suap lainnya terkait pembelian pesawat Airbus, ATR (Avions de Transport Regional) dan pesawat Bombardier," ungkap Febri Diansyah.

Lembaga antikorupsi memastikan akan terus mengusut kasus ini dan menjerat pihak lain yang terlibat. Tak hanya terkait kasus suap, KPK juga terus mengusut kasus dugaan tindak pidana pencucian uang yang menjerat Emirsyah dan Soetikno. Dalam mengusut kasus pencucian uang Emirsyah, tim penyidik memeriksa Corporate Expert Garuda Indonesia, Friatma Mahmud; Advokat Hanafiah Ponggawa & Partners, Andre Rahadian serta seorang ibu rumah tangga bernama Sandrani Abubakar yang diketahui merupakan saudara dari almarhumah istri Emirsyah pada Senin (19/8/2019).

Dalam pemeriksaan ini, tim penyidik mencecar ketiga saksi mengenai perputaran aliran dana yang diterima tersangka Emisyah, salah satunya mengenai proses pembelian dan asal usul uang untuk membeli sebuah rumah di Pondok Indah. Tak hanya itu, KPK juga terus menggali informasi terkait sekitar 30 rekening baik atas nama pribadi dan perusahaan. Sebagian besar Informasi rekening tersebut KPK dapatkan melalui MLA dari yurisdiksi hukum negara lain. "Analisis terhadap sekitar 30 rekening ini dilakukan dalam rangka follow the money," tegas Febri Diansyah.



Sumber: Suara Pembaruan