Irjen Firli Bahuri Punya Solusi Inovatif dalam Memberantas Korupsi

Irjen Firli Bahuri Punya Solusi Inovatif dalam Memberantas Korupsi
Mantan Direktur Penyidikian KPK, Irjen Firli Bahuri mengikuti tes wawancara dan uji publik Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Capim KPK) periode 2019-2023, di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa 27 Agustus 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Asni Ovier / AO Selasa, 3 September 2019 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Irjen Firli Bahuri memiliki solusi inovatif dalam pemberantasan korupsi. Selain itu, menurut Firli, pemberantasan korupsi oleh KPK tidak cukup hanya dilakukan dengan operasi tangkap tangan (OTT).

"Pemberantasan korupsi yang sekarang dilakukan KPK tidak cukup dengan penindakan melalui upaya OTT, tetapi harus dilakukan terintegrasi dan menyeluruh dengan upaya-upaya pencegahan serta pemantauan atas pelaksanaan program-program pemerintah," ujar Firli di Jakarta, Rabu (3/9/2019).

Selain upaya-upaya tersebut, kata Firli, perlu juga dilakukan upaya mitigasi terhadap risiko lahirnya perbuatan pidana korupsi. Dia menilai, pekerjaan ini belum dilakukan KPK periode sebelumnya. Padahal, upaya ini merupakan leading sector dalam upaya pencegahan korupsi bersama pemerintah.

"KPK harus hadir di garda terdepan dalam pendampingan setiap program pemerintah. KPK harus menjadi mitra pemerintah sejak penyusunan program perencanaan pembangunan, penyusunan RPNJP, RPJMN, dan penyusunan RKP bersama pemerintah," katanya.

Selain itu, solusi inovatif pemberantasan korupsi yang perlu dilakukan, tegas Firli, adalah meningkatkan serta memberikan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) KPK terkait dengan wawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air. Selain itu, instrument perundang-undangan terkait tugas pokok KPK perlu ditambah.

"Tugas pokok KPK sebagaimana disebut Pasal 6 UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK harus diperluas pada pendidikan masyarakat, pencegahan dengan sasaran pemerintah dan swasta, serta monitoring dan membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan pendapatan negara dan daerah," tutur Irjen Firli.

Dikatakan pula, ada banyak faktor yang menyebabkan orang melakukan korupsi. Namun, penyebab yang sangat relevan sebagaimana teori yang dikemukakan Jack Bologne yang terkenal dengan GONE theory, yakni korupsi timbul dari greedy (keserakahan), opportunity (kesempatan), need (kebutuhan), dan exposuse (hukuman yang rendah).

Karenanya, menurut mantan Deputi Penyidikan KPK itu, untuk memberantas korupsi perlu ditempuh dengan cara-cara luar biasa. Langkah inovatif dan solutif diperlukan untuk KPK ke depan.

"Langkah solutif itu, antara lain tindakan mitigasi, pendidikan masyarakat, pencegahan, pendampingan pengawasan pelaksananaan program pemerintah, serta penegakan hukum yang tegas, profesional, dan berkeadilan. Selain itu, juga perampasan aset, serta tindakan kolaborasi pencegahan dan penindakan. Pemberantasan korupsi juga perlu penerapan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)," kata Firli yang namanya masuk dalam 10 capim KPK yang diserahkan Panitia Seleksi Capim KPK kepada Presiden Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com