Dirut Petrokimia Gresik Klaim Namanya Dicatut Bowo Sidik

Dirut Petrokimia Gresik Klaim Namanya Dicatut Bowo Sidik
Bowo Sidik Pangarso. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / YUD Rabu, 4 September 2019 | 17:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama (Dirut) PT Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi bersaksi dalam sidang perkara suap dengan terdakwa anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (4/9). Dalam kesaksiannya, Rahmad menyebut namanya diseret-seret dalam kasus suap yang berawal dari operasi tangkap tangan tersebut. Rahmad mengklaim namanya dicatut oleh Bowo Sidik yang kini duduk di kursi terdakwa.

“Semua sudah saya sampaikan di muka persidangan. Intinya, nama saya dicatut oleh terdakwa tanpa bukti-bukti yang jelas,” kata Rahmad di persidangan.

Rahmad menceritakan awal mula mengenal Bowo saat dirinya menjabat sebagai Direktur SDM Petrokimia Gresik. Saat itu, Bowo sebagai Anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke Petrokimia Gresik. Soal pertemuan tersebut hanya terjadi satu kali di sebuah restoran dengan agenda makan siang.

"Ada juga agenda makan siang dan kolega yang tercatat PT. Danaresksa Sekuritas, kemudian saya telepon Direktur Danareksa Sekuritas Saidu Solihin, apa benar kita makan siang? betul. Siapa yang mengundang, ada staf Danareksa Sekuritas, kami dan terdakwa," terang Rahmad.

Sidang pada Rabu ini mendengarkan kesaksian enam orang. Orang kepercayaan Bowo, Indung Andriani yang juga dihadirkan sebagai saksi kembali menjelaskan seputar penerimaan uang dari Humpus Transportasi Kimia melalui Marketing Manager PT HTK Asty Winasti sebagai manajemen fee untuk Bowo Sidik. Uang tersebut diserahkan Asty kepada Indung secara bertahap sebanyak lima kali.

Diketahui, Bowo Sidik didakwa menerima suap sebesar Rp 311 juta dan USD 163.733. Suap yang diterima Bowo melalui orang kepercayaannya, Indung Andriani itu berasal dari Asty Winasti dan Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono. Suap ini diberikan lantaran Bowo membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan atau sewa kapal dengan PT Pilog. Selain dari PT HTK, Bowo juga didakwa menerima suap sebesar Rp300 juta secara bertahap dari Direktur Utama (Dirut) PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat.

Suap ini merupakan kompensasi untuk Bowo Sidik Pangarso karena telah membantu PT Ardila Insan Sejahtera (AIS) menagih utang PT Jakarta Lloyd sebesar Rp2 miliar. Tak hanya itu, pemberian uang tersebut juga diduga bertujuan memuluskan PT A‎IS mendapatkan pekerjaan penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Marine Fuel Olil (MFO) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd.
Tak hanya itu, Bowo juga didakwa menerima gratifikasi senilai SGD 700 ribu atau senilai Rp 7.193.550.000 (kurs Rp 10.276) dan Rp 600 juta. Bowo menerima gratifikasi itu terkait kewenangannya sebagai anggota Komisi VI dan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR.



Sumber: Suara Pembaruan